Monday, April 18, 2016

EKSPEDISI CIGUMENTONG 16-17 APRIL 2016



Teks: Nenden Suryani (Amih)
Foto: Nenden Suryani (AMih), Perjalanan Cahaya 

 
Hari kemarin, sabtu minggu tanggal 16-17 april, untuk yang ketiga kalinya saya ikut kembali ekspedisi Perjalanan Cahaya ke Kampung Cigumentong Kabupaten Sumedang. Ini adalah perjalanan ketiga yang saya ikuti (ikut suami) setelah Kampung Palasari Subang dan Kampung Dewata Bandung. Ekspedisi kali ini adalah untuk membagikan alat tulis sekolah dan buku iqro untuk anak-anak belajar mengaji al-qur’an, lampu portable tenaga surya yang bisa digunakan jika listrik PLN mati berhari-hari serta pakaian layak pakai untuk kegiatan berkebun warga disana.

Bertemu dan berkumpul di tempat kami pada hari sabtu, kami terbagi menjadi dua rombongan, rombongan pertama yaitu Pa Rama dan Ambu, Yudi, Epul, Kang Amir, mereka berangkat pada jam 2 siang, kemudian disusul dengan Wa Dimas dan Neng Ucu pada sore harinya. Saya perkirakan mereka sampai disana dalam keadaan cuaca masih terang benderang.. Sedangkan rombongan kedua yaitu Pa Dede, Ujang Bentar, Gobang, Kang Andre, Kang Genta, saya dan suami berangkat pada jam 8 malam. Suasana yang sudah mulai gelap gulita disertai derasnya hujan tak menyurutkan tekad kami untuk menempuh perjalanan menuju Kampung Cigumentong.

Perjalanan kami malam itu sempat terhenti sekitar kurang lebih satu jam di daerah Desa Tegalmanggung, dikarenakan ada mobil angkutan ayam ternak yang bannya terperosok ke dalam kolong jembatan yang sedang dibangun warga. Hujan besar beberapa hari yang lalu membuat jembatan tersebut ambruk tergerus air dan membuat desa saya juga mengalami bencana banjir bandang. 

Setelah berjibaku dengan waktu, dengan bantuan warga dan teman-teman volunteer serta penerangan dari lampu tembak motornya Pa Dede akhirnya mobil tersebut dapat terevakuasi dengan selamat dan kamipun dapat melintasi jembatan itu dengan aman. Jembatannya tidak seberapa panjang, tetapi karena dibuatnya masih dari kayu dan penuh lumpur membuat siapapun yang melewatinya harus ekstra hati-hati, jembatan tersebut menghubungkan jurang.



Saat itu hujan sudah reda perjalananpun kami lanjutkan kembali. Jalanan yang gelap dan licin membuat kami harus tetap waspada karena selain rumah-rumah penduduk dikanan kiri jalan juga adalah tebing-tebing tinggi yang ditanami kebun dan sawah masyarakat setempat.

Malam kian pekat. Sepanjang jalan keadaan sangat gelap gulita, meskipun banyak rumah warga tetapi sepertinya sedang ada pemadaman listrik sehingga suasana pun semakin sunyi senyap, yang terdengar hanya suara deru motor kami memecah keheningan malam. Para penduduk sudah terbuai dengan mimpinya masing-masing, kami masih terus memacu motor kami dalam sepinya malam. Jalan licin yang berlumpur dan kubangan air hujan tak menyurutkan hasrat kami untuk menuju ke lokasi.

Dan akhirnya, sekitar jam 10an malam kami tiba di Kampung Cigumentong. Sebuah kampung yang berada di puncak ketinggian Gunung Kareumbi yang menghubungkan 3 Kabupaten yakni Kabupaten Garut, Bandung dan Sumedang. Kampung ini tidak terisolir, kampung ini hanya sebuah kampung kecil dengan 17 Kepala Keluarga, kampung kecil yang dilingkupi gunung-gunung kecil disekitarnya dan masih berada pada Kawasan Wisata Hutan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi. Saat kami tiba, kami disambut Pa Rama dan kawan-kawan juga bapak-bapak penduduk disana. Sambil melepas lelah kami ngobrol kesana kemari tentang segala hal. Canda tawa, berbagi cerita dan pengalaman, mereka semua sangat ramah dan menyenangkan. Pa RT yang menjamu kami dengan kopi dan makan malam, ah sungguh benar baik sekali beliau dan warganya. Malam yang menghangatkan, kami benar-benar merasa bahagia bisa berkumpul dan bercengkerama seperti ini.

Tengah malam menjelang pagi kami pun beristirahat di aula kampung tersebut. Aula dengan alas dipan yang langit-langit dan dindingnya terbuat dari bambu ukiran, membuat kami merasa cukup nyaman untuk rebahan disana. Hujan dan situasi tak memungkinkan bagi kami untuk mendirikan tenda dan bermalam di dalamnya.
Tepat waktu subuh kami terbangun. Dinginnya luar biasa, hingga menyentuh airpun rasanya seperti ditusuk sampai ke hati, hehehe... tetapi udaranya yang segar benar-benar memanjakan indera penciuman kami.



Gerimis dipagi hari, gerimis selalu bikin romantis, kata saya ini mah hihiheho.. Hujan enaknya sih tarik selimut lagi.. apalagi ditempat seperti itu dengan suasana yang begitu, enak makan enak tidur, kalau kata Wa Dimas mah cocok buat pemontokan, hahaha... (nyindir amih itu hihihi piss ah Wa Dimas ). Tetapi kalau tidur lagi, sampai kapan kami disana sedangkan waktu semakin siang. Khususnya buat teman-teman yang dari luar kota perjalanan mereka masih panjang. Sambil menunggu hujan reda kami semua sarapan, sarapan bekal masing-masing plus sarapan liwet buatan ambu dan neng ucu juga roti lamping dan bala-bala produk Bu RT, baru tau saya kalau ada istilah baru lagi buat makanan itu, roti lamping nyaeta sampeu adalah singkong heuheuheu...


Tepat pukul 9 pagi di hari minggu tanggal 17 april, setelah hujan reda dan kami semua selesai sarapan, barulah pemberian santunanpun dilakukan. Dari mulai pemberian buku tulis, buku iqra, pakaian dan penjelasan Pa 001 tentang tatacara penggunaan lampu portable kepada Pa RT dan warganya. Melihat senyum Pa RT dan warganya, senyum anak-anak itu, senyum sumringah mereka yang sungguh luar biasa, luar biasa nikmatnya bagi kami yang merasakannya.. senyum kebahagiaan, selalu menjadi bagian yang paling penting dalam cerita perjalanan ini. Berbagi bersama mereka yang membutuhkan, bukan soal seberapa besar, atau seberapa banyaknya tetapi seberapa manfaat yang bisa diberikan sesuai dengan kemampuan. Makna dari kesemuanya itu yang tak bisa ditukar dengan nilai apapun.. Kebaikan ini adalah cara sederhana untuk berbagi kebahagiaan. Bahagia memang sesederhana itu.


Semoga semua hal yang telah para volunteer kartala, perjalanan cahaya lakukan dan berikan dapat bermanfaat bagi mereka yang menerimanya dan dapat membawa berkah bagi para donatur semuanya.. aamiin. 

Akhirnya setelah acara selesai kamipun bersiap-siap untuk pulang. Cuaca kembali cerah matahari mulai menampakkan sinarnya. Setelah berpamitan dengan Pa RT dan warganya, kami putar balik kanan untuk melakukan perjalanan kembali ke rumah kami masing-masing. Sedikit cerita meromansai kembali perjalanan ini, ketika saya, ambu dan neng ucu harus berjalan kaki lagi karena jalan batu yang licin dan berlumpur membuat kami tidak mungkin berboncengan, tidak seberapa jauh memang dan tidak sedramatis perjalanan Gunung Batu Belang, tetapi itu cukup menguras keringat saya, ambu dan neng ucu. Untuk pertama kalinya saya jalan kaki bersama ambu dan kedua kalinya bersama neng ucu, sambil lari-lari kecil dan penuh semangat ambu bilang tidak apa-apa mih biar langsing. Betul mbu.. ngahajakeun olahraga mah da hoream, hehehe... piss mbu . Rasanya seperti kilas balik perjalanan Batu Belang, ah hmm membuat saya jadi kangen Dewata..



Kami pulang beriringan melewati jalur yang kami lalui kemarin. Jembatan itu bisa kami lintasi tanpa hambatan yang berarti, meskipun jembatan itu dan sepanjang perjalanan pulang kami kondisinya masih sama penuh lumpur dan kubangan air hujan. Tetapi alhamdulillah kami dapat melewatinya dan tiba di tempat awal kami bertemu dalam keadaan selamat dan sehat wal'afiat
Setelah beristirahat dan ngobrol-ngobrol sebentar kamipun harus berpisah untuk kembali ke tempat kami masing-masing. Kebetulan karena saya dan suami adalah orang dekat sini maka untuk perjalanan kali ini saya dan suami yang lebih dulu tiba dirumah, hehehe...

 


Ah.. perjalanan yang sangat menyenangkan. Libur dari pekerjaan untuk melepas rutinitas, meskipun kadang melelahkan tapi bisa membuat segar kembali pikiran. Hal yang paling saya sukai adalah ketika saya bisa berkumpul dengan orang-orang yang membuat saya bahagia, keluarga, teman, sahabat.. berbagi kebaikan, berbagi kebahagiaan. Dengan siapapun dan dimanapun. Perjalanan yang penuh akan pelajaran, saya bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari kegiatan komunitas ini.


Terima kasih untuk semuanya.. Terima kasih para donatur.. Terima kasih Perjalanan Cahaya.. Terima kasih para sahabat Kartala.. Ambu, Neng Ucu, sampai jumpa kembali di ekspedisi berikutnya..hehe mmmuuaacchhh

*Jika ada kesalahan dan atau banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini saya mohon maaf yang sebesar2nya..