Monday, April 18, 2016

EKSPEDISI CIGUMENTONG 16-17 APRIL 2016



Teks: Nenden Suryani (Amih)
Foto: Nenden Suryani (AMih), Perjalanan Cahaya 

 
Hari kemarin, sabtu minggu tanggal 16-17 april, untuk yang ketiga kalinya saya ikut kembali ekspedisi Perjalanan Cahaya ke Kampung Cigumentong Kabupaten Sumedang. Ini adalah perjalanan ketiga yang saya ikuti (ikut suami) setelah Kampung Palasari Subang dan Kampung Dewata Bandung. Ekspedisi kali ini adalah untuk membagikan alat tulis sekolah dan buku iqro untuk anak-anak belajar mengaji al-qur’an, lampu portable tenaga surya yang bisa digunakan jika listrik PLN mati berhari-hari serta pakaian layak pakai untuk kegiatan berkebun warga disana.

Bertemu dan berkumpul di tempat kami pada hari sabtu, kami terbagi menjadi dua rombongan, rombongan pertama yaitu Pa Rama dan Ambu, Yudi, Epul, Kang Amir, mereka berangkat pada jam 2 siang, kemudian disusul dengan Wa Dimas dan Neng Ucu pada sore harinya. Saya perkirakan mereka sampai disana dalam keadaan cuaca masih terang benderang.. Sedangkan rombongan kedua yaitu Pa Dede, Ujang Bentar, Gobang, Kang Andre, Kang Genta, saya dan suami berangkat pada jam 8 malam. Suasana yang sudah mulai gelap gulita disertai derasnya hujan tak menyurutkan tekad kami untuk menempuh perjalanan menuju Kampung Cigumentong.

Perjalanan kami malam itu sempat terhenti sekitar kurang lebih satu jam di daerah Desa Tegalmanggung, dikarenakan ada mobil angkutan ayam ternak yang bannya terperosok ke dalam kolong jembatan yang sedang dibangun warga. Hujan besar beberapa hari yang lalu membuat jembatan tersebut ambruk tergerus air dan membuat desa saya juga mengalami bencana banjir bandang. 

Setelah berjibaku dengan waktu, dengan bantuan warga dan teman-teman volunteer serta penerangan dari lampu tembak motornya Pa Dede akhirnya mobil tersebut dapat terevakuasi dengan selamat dan kamipun dapat melintasi jembatan itu dengan aman. Jembatannya tidak seberapa panjang, tetapi karena dibuatnya masih dari kayu dan penuh lumpur membuat siapapun yang melewatinya harus ekstra hati-hati, jembatan tersebut menghubungkan jurang.



Saat itu hujan sudah reda perjalananpun kami lanjutkan kembali. Jalanan yang gelap dan licin membuat kami harus tetap waspada karena selain rumah-rumah penduduk dikanan kiri jalan juga adalah tebing-tebing tinggi yang ditanami kebun dan sawah masyarakat setempat.

Malam kian pekat. Sepanjang jalan keadaan sangat gelap gulita, meskipun banyak rumah warga tetapi sepertinya sedang ada pemadaman listrik sehingga suasana pun semakin sunyi senyap, yang terdengar hanya suara deru motor kami memecah keheningan malam. Para penduduk sudah terbuai dengan mimpinya masing-masing, kami masih terus memacu motor kami dalam sepinya malam. Jalan licin yang berlumpur dan kubangan air hujan tak menyurutkan hasrat kami untuk menuju ke lokasi.

Dan akhirnya, sekitar jam 10an malam kami tiba di Kampung Cigumentong. Sebuah kampung yang berada di puncak ketinggian Gunung Kareumbi yang menghubungkan 3 Kabupaten yakni Kabupaten Garut, Bandung dan Sumedang. Kampung ini tidak terisolir, kampung ini hanya sebuah kampung kecil dengan 17 Kepala Keluarga, kampung kecil yang dilingkupi gunung-gunung kecil disekitarnya dan masih berada pada Kawasan Wisata Hutan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi. Saat kami tiba, kami disambut Pa Rama dan kawan-kawan juga bapak-bapak penduduk disana. Sambil melepas lelah kami ngobrol kesana kemari tentang segala hal. Canda tawa, berbagi cerita dan pengalaman, mereka semua sangat ramah dan menyenangkan. Pa RT yang menjamu kami dengan kopi dan makan malam, ah sungguh benar baik sekali beliau dan warganya. Malam yang menghangatkan, kami benar-benar merasa bahagia bisa berkumpul dan bercengkerama seperti ini.

Tengah malam menjelang pagi kami pun beristirahat di aula kampung tersebut. Aula dengan alas dipan yang langit-langit dan dindingnya terbuat dari bambu ukiran, membuat kami merasa cukup nyaman untuk rebahan disana. Hujan dan situasi tak memungkinkan bagi kami untuk mendirikan tenda dan bermalam di dalamnya.
Tepat waktu subuh kami terbangun. Dinginnya luar biasa, hingga menyentuh airpun rasanya seperti ditusuk sampai ke hati, hehehe... tetapi udaranya yang segar benar-benar memanjakan indera penciuman kami.



Gerimis dipagi hari, gerimis selalu bikin romantis, kata saya ini mah hihiheho.. Hujan enaknya sih tarik selimut lagi.. apalagi ditempat seperti itu dengan suasana yang begitu, enak makan enak tidur, kalau kata Wa Dimas mah cocok buat pemontokan, hahaha... (nyindir amih itu hihihi piss ah Wa Dimas ). Tetapi kalau tidur lagi, sampai kapan kami disana sedangkan waktu semakin siang. Khususnya buat teman-teman yang dari luar kota perjalanan mereka masih panjang. Sambil menunggu hujan reda kami semua sarapan, sarapan bekal masing-masing plus sarapan liwet buatan ambu dan neng ucu juga roti lamping dan bala-bala produk Bu RT, baru tau saya kalau ada istilah baru lagi buat makanan itu, roti lamping nyaeta sampeu adalah singkong heuheuheu...


Tepat pukul 9 pagi di hari minggu tanggal 17 april, setelah hujan reda dan kami semua selesai sarapan, barulah pemberian santunanpun dilakukan. Dari mulai pemberian buku tulis, buku iqra, pakaian dan penjelasan Pa 001 tentang tatacara penggunaan lampu portable kepada Pa RT dan warganya. Melihat senyum Pa RT dan warganya, senyum anak-anak itu, senyum sumringah mereka yang sungguh luar biasa, luar biasa nikmatnya bagi kami yang merasakannya.. senyum kebahagiaan, selalu menjadi bagian yang paling penting dalam cerita perjalanan ini. Berbagi bersama mereka yang membutuhkan, bukan soal seberapa besar, atau seberapa banyaknya tetapi seberapa manfaat yang bisa diberikan sesuai dengan kemampuan. Makna dari kesemuanya itu yang tak bisa ditukar dengan nilai apapun.. Kebaikan ini adalah cara sederhana untuk berbagi kebahagiaan. Bahagia memang sesederhana itu.


Semoga semua hal yang telah para volunteer kartala, perjalanan cahaya lakukan dan berikan dapat bermanfaat bagi mereka yang menerimanya dan dapat membawa berkah bagi para donatur semuanya.. aamiin. 

Akhirnya setelah acara selesai kamipun bersiap-siap untuk pulang. Cuaca kembali cerah matahari mulai menampakkan sinarnya. Setelah berpamitan dengan Pa RT dan warganya, kami putar balik kanan untuk melakukan perjalanan kembali ke rumah kami masing-masing. Sedikit cerita meromansai kembali perjalanan ini, ketika saya, ambu dan neng ucu harus berjalan kaki lagi karena jalan batu yang licin dan berlumpur membuat kami tidak mungkin berboncengan, tidak seberapa jauh memang dan tidak sedramatis perjalanan Gunung Batu Belang, tetapi itu cukup menguras keringat saya, ambu dan neng ucu. Untuk pertama kalinya saya jalan kaki bersama ambu dan kedua kalinya bersama neng ucu, sambil lari-lari kecil dan penuh semangat ambu bilang tidak apa-apa mih biar langsing. Betul mbu.. ngahajakeun olahraga mah da hoream, hehehe... piss mbu . Rasanya seperti kilas balik perjalanan Batu Belang, ah hmm membuat saya jadi kangen Dewata..



Kami pulang beriringan melewati jalur yang kami lalui kemarin. Jembatan itu bisa kami lintasi tanpa hambatan yang berarti, meskipun jembatan itu dan sepanjang perjalanan pulang kami kondisinya masih sama penuh lumpur dan kubangan air hujan. Tetapi alhamdulillah kami dapat melewatinya dan tiba di tempat awal kami bertemu dalam keadaan selamat dan sehat wal'afiat
Setelah beristirahat dan ngobrol-ngobrol sebentar kamipun harus berpisah untuk kembali ke tempat kami masing-masing. Kebetulan karena saya dan suami adalah orang dekat sini maka untuk perjalanan kali ini saya dan suami yang lebih dulu tiba dirumah, hehehe...

 


Ah.. perjalanan yang sangat menyenangkan. Libur dari pekerjaan untuk melepas rutinitas, meskipun kadang melelahkan tapi bisa membuat segar kembali pikiran. Hal yang paling saya sukai adalah ketika saya bisa berkumpul dengan orang-orang yang membuat saya bahagia, keluarga, teman, sahabat.. berbagi kebaikan, berbagi kebahagiaan. Dengan siapapun dan dimanapun. Perjalanan yang penuh akan pelajaran, saya bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari kegiatan komunitas ini.


Terima kasih untuk semuanya.. Terima kasih para donatur.. Terima kasih Perjalanan Cahaya.. Terima kasih para sahabat Kartala.. Ambu, Neng Ucu, sampai jumpa kembali di ekspedisi berikutnya..hehe mmmuuaacchhh

*Jika ada kesalahan dan atau banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini saya mohon maaf yang sebesar2nya..




Thursday, March 3, 2016

PERJALANAN CAHAYA IDUL ADHA




(FOTO: Ogie Dy)
Selain fokus pada kegiatan sosial, Perjalanan Cahaya pun turut serta untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang berkenaan dengan moment-moment tertentu. Moment Ramadhan lalu, Perjalanan Cahaya melakukan “Ngabuburide”. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pemasangan instalasi solar panel di Kampung Cikujang dilanjutkan dengan buka puasa dan sahur bersama di Kampung Cisoka. Alhamdulillah pada kesempatan Idul Adha tahun ini, tim Kartala Perjalanan Cahaya menerima amanat untuk mendistribusikan hewan qurban berupa 8 ekor kambing.
Total Domba 8 ekor
Kp. Cigumentong, Kp. Cimulu, Kp. Cisoka 2 ekor
Kp. Lebak Siuh 2 ekor
Kp. Cipangeran 2 ekor
Kp. Palasari 1 ekor



Pelaksanaan :
24 September 2015
1. Kampung Palasari 1 ekor kambing
Hewan qurban dipotong langsung di Kampung Palasari. Pelaksanaan ditangani oleh Tim Purwakarta
2. Kampung Cigumentong,  Cimulu dan Cisoka 3 ekor kambing.
Hewan qurban dipotong di Parakanmuncang, kemudian dagingnya didistribusikan ke 3
kampung tersebut diatas.
Pelaksanaan di Kampung Cigumentong dan Kp. Cimulu ditangani oleh 6 voluntrider, dan Kp. Cisoka 1 voluntrider
26 September 2015
1. Kampung Lebaksiuh dan Cipangeran 4 ekor kambing.
Hewan qurban dipotong di Lebaksiuh.
Pelaksanaan di Kp. Lebak Siuh dan Kp. Cipangeran ditangani oleh 5 orang voluntrider





PERJALANAN CAHAYA EKSPEDISI CISAAR – CILEGOK



(FOTO: Arief Tdour, Denny Lukman, Priagung Sekar Langit, Dede Daglug)
Sebagian orang merayakan pergantian tahun baru dengan berbagai acara dan cara, ada yang berpesta terompet di keramaian kota, ada yang berkumpul dengan sanak saudara ada yang berpesta kembang api dan petasan, bermacam acara diadakan untuk menyambut tahun baru dengan harapan tahun yang akan datang akan lebih baik dari tahun sebelumnya.
Perjalanan Cahaya juga mengadakan pesta dalam rangka menyambut tahun baru 2016, yaitu pesta 'KASIH' di desa terisolir Cisaar Sukabumi, ya kami berpesta membagi 'KASIH' para donatur dan 'KASIH' kami kepada adik-adik di desa Cisaar di pergantian tahun baru Kali ini, dengan membagikan paket tas yang berisi seragam sekolah, buku dan peralatan tulis, kaos kaki baru serta vitamin. Bising tiupan terompet, suara petasan dan kembang api di ganti dengan suara tawa riang dan senyum gembira dari adik-adik kita di Cisaar pada saat menerima paket tas tersebut. –Arief Tdour-

Moment pergantian tahun seringkali identik dengan pesta perayaan atau bepergian ke suatu tempat dengan saudara dan teman. Hingar bingar keramaian perayaan yang identik dengan pesta kembang api dan acara-acara lainya seakan hanya menjadi sebuah dongeng bagi warga yang berada di Kampung Cisaar dan Cilegok. Ironisnya, lokasi kedua kampung ini masih satu kecamatan dan tidak terlalu berjauhan dari lokasi sebuah Taman Bumi yang baru-baru ini bertaraf internasional. Perjalanan Cahaya kali ini mencoba untuk menggantikan hingar bingar dan kemeriahan perayaan pergantian tahun 2015 ini dengan cara yang berbeda dan diharapkan lebih bermanfaat dari sekedar pesta perayaan satu malam saja.

Kampung Cilegok dan Kampung Cisaar yang merupakan lokasi kegiatan Perjalana Cahaya kali ini secara administratif berada di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, lokasi kedua kampung ini tidak terlalu jauh dari lokasi suatu Taman Bumi bertaraf internasional, bahkan terdapat jalan desa menyusuri perbukitan menuju salah satu spot andalan Taman Bumi tersebut. Ironis memang, dibalik gencarnya pembenahan beberapa desa di Kecamatan Ciemas, nampaknya tidak terasa di Kampung Cilegok dan Cisaar ini. Atas dasar inilah maka sepakat untuk dilakukan survey mengenai kebenaran informasi tersebut.



Survey Cilegok dan Cisaar
Survey pertama dilakukan oleh seorang volunteer yang kebetulan sedang bertugas di Sukabumi. Survey ini bertujuan untuk mengecek informasi yang diberikan, memberikan informasi jalur serta mencari informasi tambahan. Hasil survey pertama ini membenarkan bahwa memang terdapat dua kampung di Desa Girimukti yang cukup terisolir serta beberapa informasi tambahan.

Hasil dari survey pertama sudah cukup menghasilkan informasi mengenai permasalahan di Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok, hanya saja informasi  tambahan mengenai jalur yang direkomendasikan oleh warga Cisaar belum dapat dilaksanakan karena keterbatasan waktu. Oleh karena itu, dilakukan survey lanjutan untuk mencari jalur yang aman dan termudah untuk kegiatan Perjalanan Cahaya yang disepakati pada 31 Desember 2015 hingga 1 Januari 2016. Survey jalur ini dilakukan oleh para volunteer asal Sukabumi. Hasil dari survey jalur ini cukup membantu untuk pelaksanaan kegiatan yang bertepatan dengan awal musim penghujan. 



Kondisi Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok
Informasi awal menyebutkan bahwa terdapat dua kampung yang cukup terisolir di Desa Girimukti, yaitu Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok. Informasi awal lainnya menyebutkan bahwa masih ada empat rumah yang belum teraliri listrik. Setelah dilakukan beberapa kali survey, maka didapatkan beberapa informasi mengenai kondisi Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok. Berikut uraian kondisi kedua kampung tersebut yang menjadi perhatian kegiatan Perjalanan Cahaya:

a.     Sumber Penerangan
Hampir seluruh rumah di Kampung Cilegok menggunakan lampu cempor dan emergency lamp sebagai sumber penerangan, dan hanya dua rumah yang menggunakan genset. Total rumah di Kampung Cilegok hanya lima rumah, tetapi jaraknya cukup berjauhan dan medannya cukup sulit. Kampung Cisaar memiliki total 78 rumah, 38 diantaranya sudah memiliki listik dan sisa 40 rumah lainnya masih menggunakan lampu cempor dan emergency lamp sebagai sumber penerangan. Listrik yang dinikmati oleh 38 rumah di Kampung Cisaar ini berasal dari kampung lainnya dengan membentang kabel sepanjang 2 Km. Untuk 1 Kwh dibagi untuk lima hingga enam rumah.

b.     Sarana Pendidikan
Dari hasil survey didapatkan informasi bahwa tidak ada sekolah baik tingkatan SD, SMP, ataupun SMA di Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok, sehingga otomatis, anak-anak usia sekolah harus keluar dari Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok untuk mendapatkan pendidikan. Permasalahan tidak hanya dari ketersediaan sarana pendidikan saja, jarak dan medan yang harus ditempuh pun harus mendapat perhatian. Terdapat total 40 anak usia sekolah di Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok.



Anak-anak di Kampung Cilegok hampir sebagian besar bersekolah di Desa Girimukti yang berjarak kurang lebih 4 Km. Jarak 4 Km yang harus dilalui oleh anak-anak disini tidak sama dengan jarak 4 Km di kota-kota besar. Medan yang harus ditempuh berupa jalur single track menembus hutan yang masih tergolong alami, bahkan masih terdapat hewan-hewan buas yang di hutan tersebut. Kondisi ini akan menjadi lebih parah ketika musim hujan tiba. Ketika musim kemarau pun, anak-anak usia sekolah asal Kampung Cilegok ini tinggal di Desa Girimukti dan hanya akhir pekan mereka kembali ke rumah. Perjalanan pergi ke sekolah dan pulang ke rumah ini pun ditempuh dengan berbagai cara. Ada yang diantar dan dijemput menggunakan sepeda motor, ada juga yang berjalan kaki. Baik yang berjalan kaki maupun yang menggunakan sepeda motor, medan yang dilaluinya sama, yaitu menembus hutan dan perbukitan dengan jalur berupa single track.

Sebagian anak-anak usia sekolah di Kampung Cisaar bersekolah di Loji. Jarak tempuh yang harus dilalui kurang lebih 4 Km dan dapat ditempuh dengan satu kali perjalanan. Artinya, tidak seperti anak-anak usia sekolah di Kampung Cilegok yang harus tinggal di Desa Girimukti selama hari sekolah, anak-anak di Kampung Cisaar dapat langsung pulang kembali ke rumahnya usai sekolah. Jarak 4 Km menuju Loji bukan tanpa hambatan. Jika ombak pasang atau cuaca buruk, bahkan badai, orangtua di Kampung Cisaar ini akan melarang anak-anaknya untuk pergi sekolah. Larangan ini bukan tanpa alasan. Orangtua khawatir anak-anaknya akan terseret/terhantam ombak ketika di perjalanan.

c.      Aksesibilitas
Permasalahan utama dari keterisolasian Kampung Cilegok dan Kampung Cisaar sebenarnya adalah masalah akses atau pencapaian menuju kedua lokasi. Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, jarak yang harus ditempuh oleh anak-anak usia sekolah dari Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok menuju sekolahnya kurang lebih 4 Km, namun 4 Km tersebut bukanlah jalan raya atau jalan desa pada umumnya. Hasil survey kedua hingga h-3 kegiatan menghasilkan jalur teraman dan termudah adalah yang melalui Pantai Loji dibandingkan dengan jalur yang melalui Desa Girimukti. Medan yang harus ditempuh dari kawasan wisata Pantai Loji menuju Kampung Cisaar hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, itu pun masih dengan perjuangan.

Sepanjang kawasan wisata Pantai Loji hingga Kampung Cisaar, setidaknya harus mempersiapkan mental untuk melalui bebatuan yang ikut bergeser ketika dilalui di pinggir pantai, pantai dengan batu karang yang cukup tajam dan besar, jalur yang dipengaruhi pasang-surut ombak, jalan yang ukurannya menyerupai jalan setapak, jembatan dengan konstruksi kayu sangat lapuk dan sangat kecil, area hutan bakau, hingga beberapa muara sungai yang cukup lebar sebagai medan yang harus dilalui. Kondisi akan diperparah jika ombak sudah mulai pasang dan air di muara sungai naik. Survey menjelang kegiatan bertujuan untuk memantau waktu ombak mulai pasang, posisi batu karang yang jika pasang tertutup air, hingga waktu air di muara sungai mulai naik. Dari hasil survey, akhirnya disarankan untuk melakukan perjalanan pagi hari hingga pukul 10.00 WIB karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan musim penghujan yang mulai intens.



Posisi Kampung Cisaar dan Cilegok sebenarnya hanya berjarak kurang lebih 1,8 KM, tetapi dipisahkan oleh sebuah bukit. Hasilnya, 1,8 KM yang harus ditempuh dari Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok pun tidak semudah 1,8 KM jika di kota besar. Terdapat dua pilihan jalur menuju Kampung Cilegok dari Kampung Cisaar, yaitu dengan menyusuri pesisir pantai atau menaiki bukit yang memisahkan kedua kampung tersebut. Jalur menaiki bukit merupakan jalur yang tidak disarankan, karena medannya sangat sulit, dan sangat berbahaya jika musim hujan. Sedikit lengah, maka fatal akibatnya.

Jalur lainnya menuju Kampung Cilegok adalah melalui Desa Girimukti, namun jalur ini tidak disarankan untuk digunakan pada saat pelaksanaan kegiatan. Jalur menuju Desa Girimukti merupakan jalur single track berupa tanah dan akan menjadi lumpur yang cukup dalam ketika hujan dan melewati hutan alami dan terus menanjak hingga puncak bukit, barulah masuk ke Desa Girimukti. Jalan di Desa Girimukti pun kebanyakan masih batu dan aspal yang rusak parah dengan medan yang menanjak dan menurun. Dikhawatirkan jika mengambil jalur ini, tenaga akan habis duluan sebelum kegiatan terlaksana ditambah beban barang yang dibawa.

Kondisi Lainnya
Berdasarkan informasi, sarana MCK di Kampung Cilegok pun masih belum memadai, hanya saja untuk pembenahan atau bahkan pembangunan MCK di lokasi baru masih belum dapat terealisasikan secepatnya. Informasi tambahan berupa 40 rumah di Kampung Cisaar yang belum teraliri listrik pun masih belum dapat ditangani, namun kedua informasi ini menjadi catatan bagi kami dan terbuka bagi siapa saja yang berniat untuk membantu warga di Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok.



Perjalanan Cahaya Ekspedisi Cisaar – Cilegok
Kegiatan Perjalanan Cahaya menuju Kampung Cisaar dan Cilegok disepakati tanggal 31 Desember 2015 hingga 1 Januari 2016. Terdapat dua titik kumpul sebelum bersama-sama menuju Kampung Cisaar, kampung yang pertama dicapai dari jalur Loji. Antusiasme para volunteer dalam kegiatan ini cukup besar. Setidaknya ada kurang lebih 50 motor yang  menuju Kampung Cisaar dan Cilegok. Berbeda dengan kegiatan Perjalanan Cahaya sebelumnya, kegiatan yang bertepatan dengan moment pergantian tahun yang biasanya dihiasi dengan cuti. Momen ini dimanfaatkan beberapa volunteer untuk mengajak serta keluarganya, sehingga dalam Perjalanan Cahaya kali ini tidak hanya laki-laki saja yang berpartisipasi.

Perjalanan dimulai pukul 09.00 WIB untuk mengantisipasi kenaikan air laut dan air di muara sungai yang harus dilalui. Jarak 2-4 Km yang harus ditempuh cukup menguras tenaga. Tidak sedikit motor yang harus berjalan perlahan, terperosok lumpur, sedikit terbawa arus atau para boncenger yang turun dan berjalan kaki karena motor tidak memungkinkan untuk melaju. Sulitnya medan tidak justru membuat para volunteer berbalik arah, justru menamba semangat dan yang terpenting adalah kerja sama. Medan yang sulit untuk suatu kegiatan yang bermanfaat bukanlah sebuah penghambat, justru menjadi pemacu semangat untuk terlaksananya kegiatan.



Di lokasi pertama, yaitu Kampung Cisaar, kegiatan yang dilakukan adalah pembagian buku, alat tulis, seragam, tas sekolah, kaos kaki kepada 40 anak usia sekolah dari Kampung Cisaar dan Cilegok serta penyuluhan dan  pemberian vitamin dan obat cacing. Kegiatan berikutnya yaitu pemasangan empat set solar cell di Kampung Cilegok yang berjarak hanya 1,8 Km namun dipisahkan oleh bukit. Sebagian volunteer memilih untuk bermalam di Kampung Cilegok seusai memasang solar cell karena tenaga yang sudah terkuras seharian, ada juga yang melanjutkan perjalanan melalui perbukitan menuju salah satu objek wisata di Taman Bumi yang sedang ramai dikunjungi, ada juga yang kembali pulang ke Loji.

Tulisan Lainnya mengenai Ekspedisi Cisaar – Cielgok dapat juga dibaca di link berikut:







 

SEKILAS KAMPUNG CISAAR DAN KAMPUNG CILEGOK






Secara administratif, lokasi kegiatan Perjalana Cahaya kali ini berada di Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Berikut gambaaran singkat mengenai kondisi Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok berdasarkan beberapa keterangan yang terdapat pada Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi Tahun 2012-2032:

1.  Pengelolaan Wilayah Sungai : DAS Girimukti
Sepanjang perjalanan menuju Kampung Cisaar dari kawasan wisata Pantai Loji, para volunteer harus melewati beberapa muara sungai atau bahkan genangan cukup besar di dekat aliran sungai, atau yang biasa disebut sebagai ‘daerah genangan’

2.  Sistem Jalur dan Ruang Evakuasi Bencana: Jalur evakuasi bencana gelombang pasang, tsunami, dan abrasi.
Pada saat survey jalur dilakukan juga observasi dan informasi lainnya terkait waktu pasang-surut gelombang. Didapat juga informasi dari warga di Kampung Cisaar dan Cilegok yang memiliki anak yang bersekolah di Loji sering melarang anaknya untuk bersekolah ketika cuaca buruk ataupun badai. Sesuai rencana di dokumen RTRT Kabupaten Sukabumi, seharusnya saat ini sudah ada rencana plot jalur ataupun bukti fisik jalur mana yang akan digunakan sebagai jalur evakuasi ketika terjadi bencana. Jalur evakuasi ini juga sebenarnya dapat dijadikan sebagai jalur aman bagi anak-anak di Kampung Cisaar dan Cilegok untuk pergi bersekolah dibandingkan dengan jalur yang ada sekarang.

3.  Kawasan Hutan Lindung
Lokasi Kampung Cisaar dan Kampung Cilegok memang berada di pesisir, namun ada sebagian wilayahnya yang bersinggungan atau bahkan berada di dalam kawasan hutan. Berdasarkan informasi warga setempat, di hutan yang berdekatan dengan lokasi permukiman mereka, masih banyak satwa liar dan buas. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan anak-anak yang bersekolah di Desa Girimukti memilih agar tidak kembali ke rumah (Kampung Cilegok) setelah jam sekolah usai. Ketika mulai gelap, jalan menuju Kampung Cilegok akan cukup berbahaya karena masih adanya hewan buas.


4.  Kawasan Lindung Lainnya: Kawasan Terumbu Karang (Pantai Cilegok)
5.  Kawasan Peruntukan Pariwisata: Peruntukan pariwisata alam (Pantai Cisaar)
6.  Sistem Jaringan Transportasi Darat: Preservasi dan peningkatan jalan kolektor primer 4. Ruas jalan Simpenan (Loji) – Ciemas – Surade – Ujunggenteng sebagai pendukung pembangunan jaringan jalan Koridor Jawa Barat Selatan.
Menurut informasi dari warga setempat, kabarnya memang sudah terdengar desas-desus mengenai pengaspalan dan perbaikan prasana jalan dari Loji hingga ke Desa Girimukti.




PEMBACAAN PETA
1.  Peta Indikasi Potensi Air Tanah & Daerah Irigasi
Desa Girimukti termasuk ke dalam wilayah yang memiliki potensi air tanah yang langka baik untuk air tanah dangkal, sedang, dan dalam. Desa Girimukti termasuk ke dalam salah satu wilayah kritis air di Kabupaten Sukabumi.
(Sumber: Peta Indikasi dan Potensi Air Tanah dan Daerah Irigasi Kab. Dan Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Cipta Karya)

2.  Peta Kontur
Secara keseluruhan, Desa Girimukti termasuk ke dalam wilayah dengan kontur perbukitan. Bentangalam yang ada di sekitar Desa Girimukti, terutama yang menjadi lokasi kegiatan selain perbukitan adalah muara sungai.
(Sumber: Peta Tematik Indonesia www.petatematikindo.wordpress.com

3.  Peta Tematik Kepadatan Penduduk Kabupaten Sukabumi 2010:
Tercatat kepadatan penduduk di seluruh Desa Girimukti adalah sebanyak 160-364.990 jiwa.
(Sumber: Sensus Penduduk 2010)

4.  Peta Jenis Tanah: Latosol.
Hampir seluruh wilayah di Desa Girimukti memiliki jenis tanah Latosol, terutama di Kampung Cisaar dan Kampng Cilegok.
(Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi 2011-2031)



Keterangan Tambahan:
Tanah Latosol disebut juga sebagai tanah Inceptisol. Tanah ini mempunyai lapisan solum tanah yang tebal sampai sangat tebal, yaitu dari 130 cm - 5 meter bahkan lebih, sedangkan batas antara horizon tidak begitu jelas. Warna dari tanah latosol adalah merah, coklat sampai kekuning-kuningan. Tekstur seluruh solum tanah ini umumnya adalah liat, sedangkan strukturnya remah dengan konsistensi  adalah gembur. Dari warna bisa dilihat unsur haranya, semakin merah biasanya semakin miskin. 

Pada umumnya kandungan unsur hara ini dari rendah sampai sedang. Mudah sampai agak sukar merembes air, oleh sebab itu infiltrasi dan perkolasinya dari agak cepat sampai agak lambat, daya  menahan air cukup baik dan agak tahan terhadap erosi. Tanah ini terdapat didaerah abu, tuf dan fan vulkan, pada ketinggian 10-1000 metaer dari permukaan laut, dengan bentuk wilayah yang berombak, bergelombang, berbukit hingga bergunung. 

Pada umumnya tanah Latosol  ini kadar unsur hara dan organiknya cukup rendah, sedangkan produktivitas tanahnya dari sedang sampai tinggi. Tnah in memerlukan input yang memadai.  Tanaman yang bisa ditanam didaerah ini adalah padi (persawahan), sayur-sayuran dan buah-buahan, palawija, kemudian kelapa sawit, karet, cengkeh, kopi dan lada. Secara keseluruhan tanah Latosol atau Inceptisol ini mempunyai sifat-sifat fisik yang baik akan tetapi sifat-sifat kimianya kurang baik. 

(Sumber: