Thursday, September 17, 2015

PERJALANANCAHAYA DI LEBAKSIUH

Sabtu 13 juni 2015,
Pagi itu aku sedang packing beberapa perlengkapan pribadi ke tas, sambil memperhatikan posisi teman-teman kartala.org via group whats app ( WA ) yang sudah start dari tempat masing-masing menuju checkpoint yg sudah ditentukan sebelumnya ( mesjid Rajamandala ). Karena jarak tempuh yang relatif singkat, maka aku putuskan untuk berangkat sekitar jam 10, dengan asumsi jarak tempuh sekitar  2 jam, maka akan tiba di checkpoint sekitar jam 12. Sempurna pikir ku.
Jam 09.30, aku mulai memanaskan mesin Terry ( nama motor ku ). Seperti kebanyakan orang, saya juga menamai motor saya. Kenapa Terry? Terry adalah nama mobil yang sering saya pakai dulu, karena sekarang dia sudah tidak ada, maka saya memutuskan untuk mewariskan namanya pada motor yang saya pakai sekarang ( yah apalah arti sebuah nama? – W. Shakespeare – ).  Sambil menunggu Terry siap-siap, saya memutuskan untuk men-set playlist untuk menemani saya di jalan. Ini adalah hal baru, karena sebelumnya saya tidak pernah mendengarkan musik melalui earphone saat berkendara, saya jadi tidak bisa fokus dengan lingkungan sekitar karena telinga dan otak terdistorsi oleh musik dari hp. Tapi tidak apalah, itung-itung percobaan hahahaha…
Jam 09.50, setelah berpamitan dengan mamah ( anak mamah banget ya? Bodo amat. Hahaha ) saya dan Terry langsung menyusuri jalan raya Sumedang – Bandung diiringi madhouse dari Anthrax ditelinga saya. Jalanan sabtu itu terlihat macet dari arah Bandung ke Sumedang, sedangkan menuju Bandung terpantau ramai. Terry hanya bisa berlari secepat 40 – 60 Kpj, terhalang oleh beberapa truk yang konvoy di depan kami. Padatnya kendaraan dari arah berlawanan membuat kami kesulitan untuk mendahului. Ya sudahlah, pasrah saja mengikuti pantat truk yang bahenol. Selepas Jatinangor yang crowded, kami langsung disambut jalanan Cileunyi yang luar biasa padat dan panas dan berdebu dengan komposisi truk dan bis mendominasi jalanan. Setelah melewati kesemrawutan Cileunyi, Terry mulai bisa berlari diantara ramainya penghuni jalan lainnya. Karena kami sudah menghabiskan banyak waktu, maka ngebut adalah jawaban satu-satunya.
Jam 13.00 kami sampai di Cimahi, saya pun mengecek grup WA, ternyata teman-teman yang lain sudah mulai beranjak dari checkpoint 1 menuju kampung Lebaksiuh. Saya memutuskan untuk menyusul rombongan, berbekal titik koordinat dan video yang ditonton sebelumnya. Kembali ke jalanan menyusuri Padatnya Cimahi – Padalarang menuju Rajamandala, sesekali terhenti karena macet di beberapa pasar yang kami lewati. Jalanan selepas Situ Ciburuy relatif sepi, membuat saya men-switch riding mode Terry ke mode GPRS ( Gas Poll Rem Saeutik ) hahahaha… Sampai di pintu masuk waduk Saguling sekitar pukul … ( ah sial saya lupa, oke skip, lanjut ceritanya ) kami menyusuri jalanan waduk Saguling dengan kecepatan rendah, karena udara yang segar membuat kami ingin menikmati riding disini. Sekitar beberapa ratus meter dari pintu masuk, kami berhenti di persimpangan, ke arah kiri jalanan tanah menanjak dengan banner sebuah tempat outbound. Saya yakin ini jalan masuk menuju kampung Lebaksiuh, sempat celingak-celinguk mencari informasi, tapi tidak ada orang yang lewat, hanya angin dan aku. Sempat juga mem-foto jalan masuk dan meng-upload di grup, mengirim via bbm ke kang Ogy yg sebelumnya pernah survey, tapi tidak ada respon karena sinyal yang kurang baik di lokasi. Kami pun memutuskan masuk ke jalan tersebut, dan menemukan segerombolan pramuka yang sedang kemping. Saya pun memutuskan untuk bertanya pada mereka, dan setelah saya mendapat jawaban tentang kegalauan saya, saya mendapat jawaban via BBM dari kang Ogy tentang jalan masuknya. “masuk we ke dalam, ntar ada jalan setapak, ikuti jalan tersebut” begitu isi pesan tersebut.
jalan masuk
jalan masuk
Kami pun mulai memasuki jalan tersebut, dengan kecepatan sedang karena jalur single track yg kami lewati telah hancur karena aktifitas motor trail. Tinggi Terry yang tidak diperuntukan untuk medan seperti ini, menjadi pertimbangan saya untuk tidak membuka gas terlalu dalam. Pemandangan yang memanjakan mata, udara yang segar khas pegunungan, dan damage soul dari Black Sabbath membuat kami menikmati jalur yang sulit ini dengan hati gembira. “Tidak perlu buru-buru, take some photos” tiba-tiba ada bisikan dalam telinga yang membuat kami berhenti dan berfoto hahahaha.. dan pipis. Sempat berpapasan dengan penduduk yang searah dengan kami, mereka mempersilahkan kami jalan duluan, dengan alasan motor yang mereka tumpangi kurang bertenaga.
single track
single track
mejeng dulu
mejeng dulu
hancur
hancur
ngeri
ngeri
Setelah melewati jalanan yang berliku, menyusuri jurang, menantang, mendaki gunung dan menuruni lembah, akhirnya kami sampai di kampung Lebaksiuh, kampung yang berada hanya sekian puluh kilometer dari pembangkit listrik Jawa dan Bali, tapi tidak mendapatkan jatah listrik. Ironis. Saya melihat motor rombongan  #perjalanancahaya sedang “merumput” di halaman rumah pak Rw. Tanpa pikir panjang, saya pun meninggalkan Terry disana untuk “berbaur dengan mereka”, dan saya menuju teman-teman yang memasang instalasi solar panel di salah satu rumah warga.
merumput
merumput
Saya langsung bertemu dengan para voluntrider yang sudah tidak asing lagi, mereka adalah ; Kang Rama, Kang Yudi raisa, Mas Suyut, Nugraha dan Om Berland yang baru saya kenal kali ini. Karena kondisi di dalam rumah sudah crowded, jadi saya memilih untuk diam di luar sambil memulihkan stamina, mengobrol, merokok dan foto-foto.
memasang instalasi
memasang instalasi
Karena waktu yang sudah sore, akhirnya Kang Rama berinisiatif untuk membagi tugas, saya dan Nugraha mendapat tugas untuk meng-instalasi di salah satu rumah warga yang kebetulan lokasinya sangat jauh dari rumah lainnya. Sedangkan kang Rama, kang Yudi raisa, mas Suyut dan om Berland akan memasang instalasi di rumah lainnya. Setelah mendapat briefing singkat tentang cara pemasangan dan penyambungan kabel, kami pun bergerak menuju lokasi, di pandu warga sekitar. Sesampai di lokasi, hasil briefing tadi tiba-tiba hilang, kami mendadak lupa tentang cara instalasinya! Mungkin karena perjalanan yang jauh, atau memang kapasitas otak saya yang rendah hahahaha… Akhirnya kami memasang instalasi sesuai dengan apa yang kami ingat. Kami sempat menunggu teman-teman lainnya datang dan membantu kami, tapi mereka tak kunjung datang. Karena hari yang sudah mulai gelap, akhirnya kami memutuskan untuk menyusul mereka. Setelah bertemu, kami meminta mereka untuk melihat hasil kerja kami, karena kami juga tidak yakin dengan hasilnya. Setelah di cek, ternyata memang hasilnya kacau. Kami pun kembali merangkai semuanya sesuai dengan yang seharusnya. Karena hari sudah mulai gelap, maka diputuskan memasang solar panel akan dilakukan esok hari. Untuk sekarang, listrik langsung diambil dari accu. Setelah mengecek semua lampu menyala, kami pun kembali ke rumah pak Rw untuk solishkan ( untuk yang ga tau artinya, tanya deh ke anak pramuka, pasti mereka tau ).
calon suami raisa in action
calon suami raisa in action
Menu makan malam itu adalah daging ayam kampung, tapi yang paling istimewa adalah sambal goang khas Lebaksiuh ( juara lah sambelna, the best, numero uno ). Selesai makan, kami pun beristirahat sambil mengobrol dan ngalempeng keun cangkeng ( cari sendiri artinya di gugel ).
Minggu 14 juni 2015,
Udara pagi khas pegunungan yang dingin tapi menyegarkan mulai masuk melalui pintu yang terbuka, menggerayangi tubuh saya, seakan menyuruh saya untuk kembali ke dalam mimpi. Tapi godaan itu saya tolak, saya bangkit dari tidur, membereskan sleeping bag dan mengamati sekeliling. Terlihat om Berland dan Nugraha yang masih terbuai dalam tidurnya, terdengar hiruk pikuk dari belakang. Saya pun beranjak untuk mencuci muka dan bergabung bersama teman-teman yang sedang ngaliwet. Sarapan pagi itu dengan nasi liwet beralaskan daun pisang, ikan asin bakar, dan tentu saja sambal lebaksiuh yang menggoyang lidah. Selesai makan, kami pun menuju ke rumah warga untuk menyelesaikan pemasangan solar panel. Di pimpin oleh kang Rama, kang Yudi dan mas Suyut, pemasangan solar panel tidak memakan waktu lama. Kalian memang luar biasa. Setelah selesai, kami kembali menuju rumah pak Rw untuk bersiap-siap pulang. Rencananya hari itu kami akan menuju Stone Garden, tapi karena ada kabar duka dari keluarga kang Rama, mengharuskan kang Rama untuk kembali ke Purwakarta secepatnya. Kang Rama memilih jalur datang sebagai jalur pulang, karena itu satu-satunya rute tersingkat untuk keluar kampung. Sedangkan kami memilih jalur menuju Batujajar dengan rute berupa single track menyusuri kebun warga. Setelah berpamitan dengan pak Rw dan keluarga, kami mulai bergerak menuju Batujajar ( and the adventure begin ).
Di awal perjalanan , kami sudah disuguhi dengan jalan menanjak berupa tanah dan batu, lalu menyusuri single track diantara kebun warga. Jujur, saya sangat suka dengan single track berupa tanah. Bobot Terry yang ringan, membuat dia enak diajak bermanuver mengikuti kontur jalan. Sempat beberapa kali berhenti untuk mengecek jalur yang akan dilewati, karena kami disuguhi jembatan bambu yang tidak terlalu lebar dan terlihat ringkih. Sempat beberapa kali berhenti di persimpangan yang membuat bingung karena tanpa penunjuk arah ( ya iyalah ). Setelah menyusuri jalanan yang mengasyikan, kami disambut oleh jalur single track yang sempit yang menanjak dan berbelok, di sebelah kanan terdiri dari tebing dengan batu cadas yang menonjol, dan di sebelah kiri adalah  jurang yang menganga, yang siap menerkam mereka yang tidak hati-hati. Hiih. Satu persatu dari kami melewati rintangan ini tanpa kendala yang berarti, ini dikarenakan jalur yang kami lewati kering. Kalo hujan, mungkin saya tidak yakin akan melewatinya dengan mudah. Selepas jalur single track, kami memasuki jalanan berupa gravel, batu-batu kapur mengisi komposisi jalanan. Gravel adalah mimpi buruk terburuk saya,  grup di depan yang terdiri dari kang Yudi, mas Suyut, Nugraha dan Asep, langsung memacu motornya menghajar jalanan, mengasapi saya dan om Berland dengan debu. Jalan berbatu ( gravel/makadam ) adalah neraka bagi Terry, karena kaki-kakinya yang kecil mengharuskan ia memilih jalan yang enak dan nikmat untuk dilalui.
kemesraan
kemesraan
ayo kang asep
ayo kang asep
gas gass
gas gass
biar merayap asal selamat
biar merayap asal selamat
lagi apa kang?
lagi apa kang?
rumpi rumpi lucu
rumpi rumpi lucu
Akhirnya jalan yang menyiksa ini berakhir di pertigaan. Aspal, Lumayan untuk melemaskan otot. Setelah re-group dan menanyakan jalan pada warga sekitar, diputuskan untuk mengikuti jalan dan berbelok ke kanan di pertigaan. Menurut informasi yang didapatkan dari warga, belok kiri akan keluar di jalan raya, dan jika belok kanan, maka akan menuju waduk saguling, dan harus menyebrang memakai perahu ke Cihampelas ( bukan Cihampelas yang ada Ciwalk ya ). Tentu saja kami memilih menyebrang memakai perahu. Setelah negosiasi yang cukup alot antara kang Yudi dan tukang perahu, akhirnya diputuskan ongkosnya sebesar Rp.20.000/orang+motor. Untuk menyebrang, kami terbagi menjadi dua kloter ; kloter pertama adalah saya, Nugraha, Asep dan om Berland, dan kelompok kedua adalah kang Yudi dan mas Suyut. Waktu yang ditempuh dengan perahu relatif singkat, tidak sampai 10 menit, tapi saya sempat tegang, karena perahu yang kami tumpangi mengalami kebocoran yang lumayan besar, yang mengakibatkan air masuk ke dalam dek dengan cepat. Ketika sampai di daratan, kami melakukan kesalahan dengan diam dalam satu sisi perahu, yang mengakibatkan perahu berat sebelah dan motor-motor kami jatuh saling bertindihan ( mesra ya? ) . Pengalaman yang cukup menegangkan. Setelah unloading motor, kami beristirahat di bawah kebun bambu di sekitar waduk, sambil menunggu perahu menjemput kloter kedua.
terry dan perahu
terry dan perahu
bocor bocor
bocor bocor
DSCN4570
semangka
semangka
kok didorong?
kok didorong?
Perahu yang membawa kloter kedua akhirnya tiba, kami melanjutkan perjalanan menuju jalan Cihampelas – Cililin melalui jalan yang relatif mulus. Memasuki jalan raya Batujajar – Gunung Halu, jalan aspal dengan suasana hari minggu pagi yang ramai, macet ketika memasuki pasar. Pada satu titik ( ga tau nama tempatnya ), ada perbaikan jalan yang mengharuskan terjadi buka tutup, dan kami harus menunggu giliran lewat dibawah sinar matahari yang terik dan tidak bersahabat. Akhirnya om Berland mengambil inisiatif untuk mengambil jalur alternatif. Jalan ini memiliki lebar kurang lebih 2 meter, aspal mulus, karena saya terhalang oleh motor di depan saya, akhirnya kami terpisah dari rombongan. Saya dan Asep, memilih mengikuti marka jalan menuju Cimahi, sempat bingung karena kami tidak familiar dengan rute ini, akhirnya kami bertanya pada warga, dan kami mengikuti arahan dari warga tersebut dan keluar di daerah Dustira, Cimahi. Saya dan Asep berjalan beriringan melewati jalanan Cimahi yang luar biasa padat hari itu. Kami berpisah di Alun-alun Cimahi, Asep mengambil arah ke kanan menuju Bandung karena akan langsung pulang ke Majalengka, dan saya memilih ke kiri menuju Cisangkan, Cimahi.

Original Posted: https://andrebastard.wordpress.com/2015/06/18/perjalanancahaya-di-lebaksiuh/  

No comments:

Post a Comment