Tuesday, May 5, 2015

Ranca Buaya - Kamojang (collectmomentsNOTthings) #RideReport

 oleh : Aan Trifolium

“Om, nanti tikum di masjid SindangBarang” begitu WA dari rekan voluntrider perjalanan cahaya. Segera kubuka google maps untuk mencari rute terdekat, dan akhirnya diputuskan kita akan menuju lokasi baksos via Sukabumi. Libur panjang akhir pekan kali ini kita memang ingin berpartisipasi di Perjalanan Cahaya di kampoeng Citoe, Cianjur. Keluyuran sambil bakti sosial kenapa tidak pikirku.

Semalam sebelum keberangkatan, kita disibukkan untuk packing buku dan baju sumbangan di matic kecil kami. Setelah beberapa lama akhirnya semua persiapan beres. Seperti biasa kuminta istri dan Zahra untuk tidur lebih cepat karena rencananya kita akan berangkat jam 3 dini hari supaya bisa sampai sebelum sholat Jumat di Masjid Sindang Barang. Kupastikan semua barang sudah masuk sebelum menyusul mereka ke peraduan.


Sekitar jam 1.30, aku dan istriku sudah terbangun. Segelas kopi menemani dini hari itu, untuk sekedar membantuku membuka mata. Tak lama kemudian istriku membangunkan Zahra. Setelah mengecek semua pintu dan jendela, tak lupa mencopot peralatan listrik kita pun berangkat. Udara yang lumayan dingin menyamput kita semua seraya mengucapkan “Have a nice adventure, time to collect moments NOT things” Kurang lebih 1.5 jam kita berjalan, kita sempatkan ke pompa bensin untuk menunaikan sholat shubuh. Dan sekitar jam 7.30 kita berhenti untuk kedua kalinya di Cisaat untuk sarapan bubur ayam cianjur. Rasanya beda dengan yang biasa kita makan di BSD. Bubur yang ini lebih enak. Entah kenapa makanan di daerah terasa lebih enak daripada di kota.


Selepas Cisaat menuju Sukanagara. Jalanan mulai amburadul, naik turun plus kelokan menanjak dan menurun sepertinya akan menemani sepanjang perjalanan. Lubang dan batu juga tampaknya akan terus ditemui. Beberapa kali kita sempatkan berfoto ria sebagai kenang kenangan. Tampak juga rombongan touring berbagai klub dan motor juga dijumpai sepanjang perjalanan. Jalanan yang rusak membuat perjalanan kita tersendat, waktu seperti merayap lambat dan cuaca yang panas membuat kita harus berhenti beberapa kali hanya untuk minum atau beristirahat.

 
Selfie merupakan salah satu kegiatan kita ketika beristirahat
Istirahat sebelum sukanagara
Tepat jam 11.30 kita sudah sampai di SindangBarang. Bergegas aku masuk ke masjid menunaikan sholat Jumat sedangkan istriku dan Zahra mencoba mencari tempat untuk makan siang. Kusempatkan untuk update di group WA voluntrider posisi terkini dan ternyata rekan voluntrider dari Bandung, mas Bambang dan Yudha sudah di masjid sedangkan mas Dendy Julius sedang di pantai Apra, yang dekat dekat Masjidnya – kurang lebih 650 m. Seusai sholat dan makan siang, rekan rekan voluntrider mulai berkumpul dan salah satu tetua dari kampoeng Citoe, pak Edi juga sudah ada untuk mengantarkan kita ke lokasi perjalanan cahaya. Setelah berdiskusi, kita memutuskan untuk langsung ke lokasi menyusul kang Rama Bargawa, Yudi dan mas Suyut yang sudah ada di lokasi, sedangkan rekan rekan lainnya yang belum sampai di Tikum akan dijemput lagi.
 
Kita berlima segera menuju ke lokasi dan “drum roll” jalannya super amburadul. Jangan harapkan ada aspal, batu batu besar dan tanah terhampar disepanjang jalan menuju citoe. Kenangan perjalanan ketika ke Batu Layar berkelebat di kepala. Beban berat karena membawa buku dan baju sumbangan menjadikan perjalanan ini semakin menantang. Beberapa kali Istri dan Zahra harus turun karena tanjakan yang mustahil dilewati bertiga, mengingat jalanan yang rusak atau kubangan kubangan dalam yang membutuhkan tenaga lebih.
 

30 menit perjalanan, peluh sudah membasahi baju dan kita baru berjalan 150 m sedangkan ke kampoeng citoe masih sekitar 2 kman lagi. Tiba tiba kita dikejutkan asap putih pekat yang keluar dari Iron Blue. Segera kuminta mereka turun untuk melihat dari mana asap putih itu keluar. “Asapnya keluar dari tengah motor mas, “ujar istriku. Kuputuskan untuk mematikan mesin dan memang panas terasa sampai di body motor. Setelah berdiskusi dengan istriku, saya memutuskan untuk putar balik untuk mencari bengkel terdekat mumpung masih sore daripada kita paksakan terus ke kampoeng dan bermasalah disana yang berujung menyusahkan orang lain.
 

Tak lama berselang, Pak Edi, pemuka kampong tersebut, lewat dan kita menitipkan buku-buku dan baju sumbangan ke beliau dan meminta maaf tidak bisa melanjutkan perjalanan ke kampong tersebut. Segera ku update di group WA kondisi terakhir kita dan melanjutkan ke bengkel terdekat. Perjalanan keluar dari kampong juga bukan hal yang gampang. Untungnya pemandangan yang indah menjadi teman setia saat itu, sedikit menghibur kegusaran kami semua yang gagal sampai di kampong tersebut.
 
medan berat yang harus kita lalui
Add caption
kalau capek yang berhenti
Selepas kampong perlahan kukendarai Iron blue, sekarang malah motor tidak bisa didorong kebelakang. Harap harap cemas semoga tidak ada kerusakan yang parah. Sesampai di bengkel, langsung buka cvt dan eng ing eng, per cvt lepas. Ini yang menyebabkan motor tidak mau mundur, ketika saringan udara dibuka juga penuh dengan oli. “motornya diapain aja mas, kok sampai gini?” Sepertinya beban dan medan yang berat membuat Iron Blue bekerja ekstra keras dan semua ada batasnya. Dan mungkin ini batas Iron blue. Setelah menambahkan oli dan istirahat, serta memasang kembali per cvt yang lepas. Iron Blue terasa normal, tidak ada asap putih keluar dari motor lagi. Karena senja juga semakin dekat, kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah ranca buaya. Ditengah perjalanan, gundukan pasir di kanan jalan kearah Cidaun menarik perhatian saya, dan tanpa pikir panjang segera kubelokkan iron blue ke lokasi tersebut. Hamparan pasir berwarna hitam serta bukit bukit pasir membuat pemandangan yang berbeda dari pantai pantai yang biasa kita kunjungi.

Indah ya




Tempat yang cocok untuk merenung


dan tentunya selfie

 

Berat untuk meninggalkan tempat ini tapi kita harus segera melanjutkan perjalanan sebelum gelap. Pantai Jayanti kita lewati dan Ranca Buaya masih 26 km didepan kita. Perjalanan yang berat sebelumnya benar benar membuat kita bertiga ingin segera merebahkan badan. Memasuki ranca buaya kita sudah dicegat untuk membayar retribusi sebesar Rp.5000,- per orang. Setelah menentukan penginapan, Zahra dan saya ingin melihat sunset sedangkan istriku sudah baringan. Jahitan bekas operasi usus buntunya terasa nyeri. Ikan bakar menjadi pilihan kita untuk mengisi perut supaya kita punya energi cukup untuk hari berikutnya.
 
Senja di Ranca buaya

“Zahra, mau lihat nelayan mau berlayar ga?” tanyaku pagi hari keesokan harinya. “Mau dong, yuk Abi.” Setengah berlari dia menuju pantai dan menarik narik tanganku. Tampak beberapa nelayan sedang berusaha mendorong kapalnya kelaut dengan memanfaatkan daya tarik ombak. “Mereka hebat ya abi. Kalau kita belum tentu kuat seperti itu,” kata Zahra. Aku hanya tersenyum simpul mendengar celotehannya. Kita menyusuri pantai tersebut, tampak hamparan rumput laut yang dikeringkan disepanjang pantai. Rupanya tidak hanya ikan yang menjadi sumber mata pencaharian penduduk disana tapi juga rumput laut menjadi sumber penghasilan tambahan. Pantai yang berkarang dan ombak yang besar membuat kita tidak berani berenang.


tampak para nelayan berusaha mendorong kapal mereka ke laut


dan mulailah mereka berlayar

Setelah puas berkeliling, segera kita berbersih diri dan melanjutkan perjalanan. Pemberhentian pertama puncak guha yang kesohor. Jarak antara Rancabuaya dan Puncak Guha hanya berjarak sekitar 3 km, jika dari arah Rancabuaya posisinya ada di kanan jalan. Tampak beberapa bikers yang sudah nenda disana, sayangnya terlihat banyak sampah plastik berserakan disana sini. Salah satu bentuk mengagumi keindahan alam adalah dengan menjaganya bukan merusak dan mengotorinya. Bau khas kotoran kelelawar juga lumayan santer tercium, sepertinya dibawah tebing tersebut ada rongga tempat kelelawar tersebut tinggal.


pemandangannya memang spektakuler

Sambil berharap suatu hari bisa melihat sunset di puncak guha, kuarahkan Iron Blue ke arah santolo, rencananya kita akan ke Garut via pamengpeuk. Jalanan sudah mulus tidak seperti ketika kita lewat daerah ini 2 tahun yang lalu yang masih rusak. Perjalanan relatif lancar, dari pamengpeuk menuju cikajang perjalanan didominasi tanjakan, dan sesekali turunan dengan kelokan yang bervariasi, benar benar memanjakan mereka mereka yang suka cornering. Mendekati Cikajang jalanan baru mulai tak rata. Hamparan perkebunan teh memanjakan mata kita dan segarnya udara perbukitan mengisi rongga dada.


perkebunan teh


air turun dari atas di pinggir jalan

Memasuki kota Garut waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, kita setuju untuk rehat di salah satu kota favorit kita untuk memanjakan perut. Bagi kami bertiga, makanan di Garut enak enak, hampir tidak pernah kami membeli makanan yang kurang berkenan di lidah ketika berada di Garut. Malam itu, Zahra untuk pertama kalinya mencoba es krim goreng, sedangkan istriku memesan pisang Turki dan aku sendiri memilih batagor dan roti bakar untuk memuaskan rasa lapar. Selesai memuaskan indra pengecap, kita langsung istirahat supaya makanan yang telah disantap, terserap sempurna dan menjadi tenaga untuk keesokan harinya.

Kita sudah beberapa kali menginap di Garut, tapi belum pernah sekalipun mengunjungi kawah kamojang. Setelah berdiskusi dengan teman teman Chabi di Group WA, saya memutuskan untuk kesana, walaupun sempat khawatir dengan medan yang akan dilalui yang konon menurut om Dwi dan Rejoz cukup menantang. Setelah sarapan, dengan mantap kita menuju samarang untuk selanjutnya mengarah ke kamojang. Minggu itu banyak sekali muda mudi yang bercengkrama di pinggir jalan untuk sekedar ngobrol atau jalan kaki pagi. Trek yang naik terus menerus, membuat Iron Blue kepayahan. Perlu awalan yang pas untuk bisa menaklukan tanjakan demi tanjakan. Sayangnya dengan ramainya muda-mudi tersebut terkadang membuat saya mengerem yang membuat Iron blue kehilangan momentum. Sempat istri dan Zahra turun dari Iron Blue karena tidak kuat dengan tanjakan.


suasana khas pegunungan


rehat = selfie

Kamojang sendiri terletak di kaki gunung Guntur dan berada di perbatasan Garut dan Majalaya, Bandung. Disini juga terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi pertama di Indonesia yang dikelola bersama antara Pertamina dan PT Indonesia Power. Sepanjang perjalanan dari arah Garut, kita akan disuguhkan pemandangan khas pegunungan yang sejuk dan pesawahan yang elok. Lokasi wisata pertama yang akan ditemui adalah tempat penangkaran Elang Jawa. Sayangnya waktu itu kita tidak sempat mampir.


Kapan lagi bisa pose dekat pipa panas


medan menuju kawah kamojang

Memasuki kawasan wisata kamojang, kawah pertama yang akan ditemui adalah kawah manuk. Bagi saya kawah manuk lebih menyerupai danau kecil yang mengeluarkan uap panas. Konon diberi nama kawah manuk karena suara gelembung air yang keluar di kawah tersebut menyerupai suara kicauan manuk (burung)


kawah manuk yang lebih menyerupai danau


jangan lupa collect moments

Tak jauh dari kawah tersebut, kita diharuskan membayar karcis masuk wisata kamojang. Rp. 22.500,- yang harus kita bayarkan untuk satu motor dan tiga pengunjung. Ada beberapa warung penjual makanan dan minuman serta kamar kamar – lebih tepatnya bilik kecil jika pengunjung ingin berendam air panas di lokasi parkiran tersebut. Cukup berjalan 100 m kita sudah dapat melihat kawah kedua – kawah kereta api. Sama dengan sebelumnya, asal muasal pemberian nama memang karena kawah yang satu ini mempunyai tekanan gas yang sangat kuat. Seorang kuncen akan mendemonstrasikan kuatnya tekanan gas dengan meletakkan untaian botol plastik diatas gas tersebut dan akan terlempar tinggi diudara. Sedangkan suara peluit kereta api dihasilkan dari bambu yang sengaja diletakan oleh abah diatas semburan gasnya. Suaranya cukup memekakkan telinga.


menunggu atraksi si abah mengeluarkan suara peluit kereta


bambu yang digunakan untuk mengeluarkan suara peluit dan tumpukan plastik untuk atraksi.

Sedangkan kawah terakhir yang kita kunjungi adalah kawah hujan. Ini kawah yang paling asyik buat kita karena kita bisa menikmatinya langsung. Menurut abah Koko, kuncen kawah tersebut, para pengunjung bisa bersauna serta melakukan totok jarum menggunakan uap dan air panas di kawah tersebut. Ditengah lokasi tersebut, terlihat tumpukan batu yang mengepulkan asap. Si abah, menggunakan asap rokoknya untuk mengeluarkan uap. Anehnya, ada seorang pemuda yang mencoba meniru tapi uap tidak kunjung keluar. Masih menurut abah Koko, sauna alam ini mempunyai khasiat untuk kesehatan. Tak ayal banyak pengunjung yang datang untuk berobat disini.


Abah koko, kuncen kawah hujan


hot stones untuk sauna alam


tetap collect moments not things

Selesai bersauna ria, kita bergegas melanjutkan perjalanan. Teringat pesan dari penjual tiket di kamojang untuk ekstra hati hati ketika melanjutkan perjalanan ke Majalaya, terutama karena kita memakai matic. 5 menit perjalan awal terasa lancar, selanjutnya benar benar membuat saya berkeringat dingin. Turunan curam, atau turunan berkelok kelok itu biasa, ini turunan seperti huruf Z. patah patah dan curam sekali. Ditambah batu batu yang lepas dari aspal membuat saya ekstra berhati hati. Jika dirasa sangat curam, aku meminta istri dan anakku untuk turun, tidak mau ambil resiko. Hal yang ditakutkan terjadi, karena jalur yang ekstrim, kerja rem depan dan belakang menjadi ekstra. Rem depan blong karena kepanasan, dibantu rem kaki dan gundukan pasir dipinggir jalan, berhenti juga si Iron Blue.


Iron blue remnya blong kepanasan

Setelah beristirahat sebentar untuk mendinginkan rem, kusempatkan berjalan kaki untuk melihat medan didepan. Dan astaga turunan curam masih saja didepan mata. Kupinta istri dan Zahra untuk berjalan kaki sedangkan aku akan menyusul setelah rem mulai berfungsi. Judulnya ini bukan touring bagi mereka tapi hiking. Setelah bersusah payah akhirnya kami sampai di Majalaya pukul 1 siang. Segera mencari tempat makan dan istirahat sholat. Perjalanan dilanjutkan melewati Ciparay – Bandung – Cianjur – Puncak - Parung – BSD. Sepanjang perjalan dari Bandung ke BSD, kita bertiga dihajar hujan terus menerus, tapi Alhamdulillah kita selamat sampai rumah sekitar pukul 7 malam.
Tetap sehat, tetap semangat dan tetap keluyuran.
 
CollectmomentsNOTthings

No comments:

Post a Comment