Monday, May 4, 2015

Perjalanan Menuju Cahaya Citoe #RideReport

oleh : Rama Bargawa (Yandi Hidayat)

Citoe nama satu kampung di selatan Cianjur. Ejaan lama mungkin dibaca “Citu”, tapi sekarang berdasar bunyi hurupnya jadi Citoe. Toe? , adalah nama sejenis Kijing yang lebih kecil .Kebanyakan ada di sungai-sungai kecil dan empang. Mereka menamai nama kampungnya Citoe berdasar nama sungai yang menjadi urat nadi kehidupan kampung di suatu lembah tersebut. Tapi, menuju Citoe lah perjalanan panjang dan berliku dimulai…………

Kamis, 30 April 2015
Menjelang Ashar, dua sahabat di team perjalanan cahaya, datang menjemput. Sebut saja namanya Yudi Raisa dan mas Suyut. Pengepakan barang bawaan di masing-masing tunggangannya. Kabel, Lampu ,dan alat lainnya. Semuanya beres, sesudah ashar barulah berangkat  Diiringi tatapan penuh kekhawatiran sang istri……….huuh lebay yah….. 

Sepakat kami menyusuri jalan alternative di Purwakarta ini karena rame di jalan utama sebab adanya libur panjang awal Mei. Pasawahan-Bojong-Sawit-Darangdan dan langsung nyebrang ke Bandung Barat via Jembatan Cisomang yang terkenal itu. Menjelang Magrib, kami sampai di Rajamandala,  Istirahat untuk shalat magrib.



Setengah jam sesudahnya berangkat lagi menuju kota Cianjur via jembatan lama Rajamandala. Titian legendaris sewaktu dilewati bus-bus Bandung ,Tasik,Garut, Banjar,menuju Jakarta dan sekitarnya  disaat  jalan tol Cipularang belum dibangun. Sekarang?....tinggal kenangan saja.
Ciranjang sudah terlewati, saatnya masuk jalan baru by pass Cianjur menuju langsung kearah Sukabumi. Sepi dan mulus jalannnya. Dua sahabat dibelakang saya kelihatan gatal untuk menarik tuas gas lebih dalam…..haha….tapi tidak nyalip juga……..mungkin kurang tau rute atau….ah sudahlah……….
Cianjur-Sindangbarang. Jalan kabupaten Cianjur membentang didepan mata. Awal mulusnya sampai kecamatan Cibeber saja, setelahnya?, Lubang sana sini. Rider dituntut awas mata, kalau tidak mau menghantamnya. Jam delapan malam menjelang, saatnya istirahat tidur. Dicarilah perkebunan the yang ada lapang luasnya buat tenda. Kami memang mempersiapkan perjalanan ini dengan tendanisasi. Saatnya tidur, sahabat……………………zzzzzzz…………………………….




 
Jum’at, 1 Mei 2015
Pagi dingin menerpa wajah begitu bangun diperaduan sederhana dalam tenda.  Semburat fajar disambung terbitnya dipermukaan pegunungan ditimur kecamatan Campaka ,Cianjur. Paking barang-barang untuk lanjut perjalanan yang tersisa delapan puluh kilometer lagi. Sarapan dipintu keluar perkebunan. Nasi goring campur telor andalan menu warungnya. Beberapa kali diklakson rider-rider yang akan liburan ke pantai selatan.
Tepat jam sepuluhan tibalah di Sindangbarang untuk titik kumpul pertama sahabat-sahabat seperjalanan nanti. Buka sosial media untuk check posisi  masing-masing. Ternyata ,masih sekitar 1-2 jam lagi tibanya. Saya memutuskan untuk langsung saja menuju kampung Citoe ,dengan bekal keterangan pak Edi, seorang yang dipercaya Mang Dedi buat memandu kami.
Blasss…….Gang masuk pertama ,kami langsung disuguhi jalur Ajaib. Batu tatakan yang tak rata dan tanah lumpur. Gual geol SiOnta dengan beban Kabel 500 meter cukup membuat degdegan ridernya. Di suatu turunan , saya berhenti sejenak untuk mengukur nyali menyusurinya. Dua Sahabat, sukses melewatinya. Kini giliran saya……….Alhamdulilah bisa juga berkat advis kedua sahabat itu. Giliran trek di persawahan,barulah saya menyerah……….barang bawaan oper alih posisi. Nol beban………jadinya…ringan…dengan seperti itu, semangat membara lagi…….ayo temans kita lanjut…….Sepeaker masjid Al Amin bergema disaat kami tiba di kampung Batu Korsi ,kampung pertama tujuan  Bakti negeri perjalanan cahaya. Istirahat dan shalat jum’at disini.
Citoe masih 1,5 km lagi. Setelah ramah tamah sama pengurus madrasah,kami lanjut. Jalanan batu berganti tanah terus menuju cadas……….turunan pertama sukses,kedua Alhamdulilah ,ketiga selamat, keempat ?!, barulah siOnta mencium cadas untuk pertama kali di jalur ekspedisi Citoe ini. Memang! Skil ilmu berkendara memang kurang plus nyali juga ciut, akhirnya ya………….sesuai foto dibawah ini…..sepuluh menit gogoleran menunggu bantuan ngangkat SiOnta yang berat..yups…..jam 2 siang ,tibalah kami di kampung terpencil itu.

Sambutan ramah khas tanah Pasundan menyambut kami. “Gek Sor” , itu istilahnya. Tidak banyak waktu berdiam diri, kami langsung mengukur perimeter buat pemasangan instalasi tenaga matahari. Jam 3 an mulai bekerja, Alhamdulilah menjelang Magrib sudah menyelesaikan lima rumah. Satu persatu sahabat di berbagai kota mulai berdatangan. Kenal di dunia maya bertemu di dunia nyata. Haha hihi kaya kenal lama, lanjut istirahat sebentar , sebelum mandi disungai sesuai kebiasaan penduduk setempat. Tidak ada dinding pemisah dan penghalang, semua terbuka. Awalnya ragu-ragu celana…selanjutnya…..? ,terserah Anda………..! malam  ditemani nyamuk yang banyak, setelah ngobrol ngalor ngidul, saatnya tidur………………………..Zzzzzzz……………………………………….


Sabtu, 02 Mei 2015












Pekerjaan panjang dimulai. Semua bergerak tak terkecuali penduduk setempat juga dikerahkan untuk membantu. Alhamdulilah jam sepuluhan sudah menyelesaikan 20 rumah untuk instalasinya. Tinggal nyambung ke tenaga Mataharinya yang disimpan sebagai arus listrik di ACCU. Terkemukalah si Ahmad, pemuda penduduk setempat yang begitu cepat menguasai  instalasi ini. Satu persatu Sahabat mempersiapkan kepulangannya….galau semalam hujan deras bisa membuat jalan tidak bisa dilewati motor tanpa adanya tambahan asesoris. Dan benar saja………beberapa sahabat tertahan di tanjakan kedua. Lelah adalah penyebabnya. Setengah hari berkutat dengan instalasi. Saya selaku wakil kepala rombongan mempercayakan kelanjutan pemasangan yang tinggal empat rumah lagi kepada si Ahmad. Jam sebelas semua naik satu persatu tanjakan.

Amazing Journey Start Here














Skil pengendara, ketangguhan mesin, torsi, dan pemilihan ban yang tepat semua diuji disini. Butuh empat jam untuk menaklukan jarak 1,5 km tersebut. Alhamdulilah ,semua naik menjelang jam 2 siang. Sore baru masuk Sindangbarang, istirahat makan. Satu dua pamit pulang ke rumahnya masing-masing. Sebagian  diskusi untuk kemping menghabiskan akhir pekannya. Saya dan Asep memutuskan pulang karena badan ngedrop pengen cari kasur empuk,sedang Asep ada acara dikampusnya. Cidaun-Naringgul-Balegede-Rancabali-Soreang-Batujajar adalah rute pulangnya. Alhamdulilah, jam delapan malam menemukan juga kasur empuk di Batujajar. Keesokan paginya lanjut menuju Purwakarta. Disambut si Raffi didepan rumah……………………………………………………

#sebagian foto-foto milik kang Arief Tdour dan Yudi Permana

CAG

1 comment: