Tuesday, May 5, 2015

Ranca Buaya - Kamojang (collectmomentsNOTthings) #RideReport

 oleh : Aan Trifolium

“Om, nanti tikum di masjid SindangBarang” begitu WA dari rekan voluntrider perjalanan cahaya. Segera kubuka google maps untuk mencari rute terdekat, dan akhirnya diputuskan kita akan menuju lokasi baksos via Sukabumi. Libur panjang akhir pekan kali ini kita memang ingin berpartisipasi di Perjalanan Cahaya di kampoeng Citoe, Cianjur. Keluyuran sambil bakti sosial kenapa tidak pikirku.

Semalam sebelum keberangkatan, kita disibukkan untuk packing buku dan baju sumbangan di matic kecil kami. Setelah beberapa lama akhirnya semua persiapan beres. Seperti biasa kuminta istri dan Zahra untuk tidur lebih cepat karena rencananya kita akan berangkat jam 3 dini hari supaya bisa sampai sebelum sholat Jumat di Masjid Sindang Barang. Kupastikan semua barang sudah masuk sebelum menyusul mereka ke peraduan.


Sekitar jam 1.30, aku dan istriku sudah terbangun. Segelas kopi menemani dini hari itu, untuk sekedar membantuku membuka mata. Tak lama kemudian istriku membangunkan Zahra. Setelah mengecek semua pintu dan jendela, tak lupa mencopot peralatan listrik kita pun berangkat. Udara yang lumayan dingin menyamput kita semua seraya mengucapkan “Have a nice adventure, time to collect moments NOT things” Kurang lebih 1.5 jam kita berjalan, kita sempatkan ke pompa bensin untuk menunaikan sholat shubuh. Dan sekitar jam 7.30 kita berhenti untuk kedua kalinya di Cisaat untuk sarapan bubur ayam cianjur. Rasanya beda dengan yang biasa kita makan di BSD. Bubur yang ini lebih enak. Entah kenapa makanan di daerah terasa lebih enak daripada di kota.


Selepas Cisaat menuju Sukanagara. Jalanan mulai amburadul, naik turun plus kelokan menanjak dan menurun sepertinya akan menemani sepanjang perjalanan. Lubang dan batu juga tampaknya akan terus ditemui. Beberapa kali kita sempatkan berfoto ria sebagai kenang kenangan. Tampak juga rombongan touring berbagai klub dan motor juga dijumpai sepanjang perjalanan. Jalanan yang rusak membuat perjalanan kita tersendat, waktu seperti merayap lambat dan cuaca yang panas membuat kita harus berhenti beberapa kali hanya untuk minum atau beristirahat.

 
Selfie merupakan salah satu kegiatan kita ketika beristirahat
Istirahat sebelum sukanagara
Tepat jam 11.30 kita sudah sampai di SindangBarang. Bergegas aku masuk ke masjid menunaikan sholat Jumat sedangkan istriku dan Zahra mencoba mencari tempat untuk makan siang. Kusempatkan untuk update di group WA voluntrider posisi terkini dan ternyata rekan voluntrider dari Bandung, mas Bambang dan Yudha sudah di masjid sedangkan mas Dendy Julius sedang di pantai Apra, yang dekat dekat Masjidnya – kurang lebih 650 m. Seusai sholat dan makan siang, rekan rekan voluntrider mulai berkumpul dan salah satu tetua dari kampoeng Citoe, pak Edi juga sudah ada untuk mengantarkan kita ke lokasi perjalanan cahaya. Setelah berdiskusi, kita memutuskan untuk langsung ke lokasi menyusul kang Rama Bargawa, Yudi dan mas Suyut yang sudah ada di lokasi, sedangkan rekan rekan lainnya yang belum sampai di Tikum akan dijemput lagi.
 
Kita berlima segera menuju ke lokasi dan “drum roll” jalannya super amburadul. Jangan harapkan ada aspal, batu batu besar dan tanah terhampar disepanjang jalan menuju citoe. Kenangan perjalanan ketika ke Batu Layar berkelebat di kepala. Beban berat karena membawa buku dan baju sumbangan menjadikan perjalanan ini semakin menantang. Beberapa kali Istri dan Zahra harus turun karena tanjakan yang mustahil dilewati bertiga, mengingat jalanan yang rusak atau kubangan kubangan dalam yang membutuhkan tenaga lebih.
 

30 menit perjalanan, peluh sudah membasahi baju dan kita baru berjalan 150 m sedangkan ke kampoeng citoe masih sekitar 2 kman lagi. Tiba tiba kita dikejutkan asap putih pekat yang keluar dari Iron Blue. Segera kuminta mereka turun untuk melihat dari mana asap putih itu keluar. “Asapnya keluar dari tengah motor mas, “ujar istriku. Kuputuskan untuk mematikan mesin dan memang panas terasa sampai di body motor. Setelah berdiskusi dengan istriku, saya memutuskan untuk putar balik untuk mencari bengkel terdekat mumpung masih sore daripada kita paksakan terus ke kampoeng dan bermasalah disana yang berujung menyusahkan orang lain.
 

Tak lama berselang, Pak Edi, pemuka kampong tersebut, lewat dan kita menitipkan buku-buku dan baju sumbangan ke beliau dan meminta maaf tidak bisa melanjutkan perjalanan ke kampong tersebut. Segera ku update di group WA kondisi terakhir kita dan melanjutkan ke bengkel terdekat. Perjalanan keluar dari kampong juga bukan hal yang gampang. Untungnya pemandangan yang indah menjadi teman setia saat itu, sedikit menghibur kegusaran kami semua yang gagal sampai di kampong tersebut.
 
medan berat yang harus kita lalui
Add caption
kalau capek yang berhenti
Selepas kampong perlahan kukendarai Iron blue, sekarang malah motor tidak bisa didorong kebelakang. Harap harap cemas semoga tidak ada kerusakan yang parah. Sesampai di bengkel, langsung buka cvt dan eng ing eng, per cvt lepas. Ini yang menyebabkan motor tidak mau mundur, ketika saringan udara dibuka juga penuh dengan oli. “motornya diapain aja mas, kok sampai gini?” Sepertinya beban dan medan yang berat membuat Iron Blue bekerja ekstra keras dan semua ada batasnya. Dan mungkin ini batas Iron blue. Setelah menambahkan oli dan istirahat, serta memasang kembali per cvt yang lepas. Iron Blue terasa normal, tidak ada asap putih keluar dari motor lagi. Karena senja juga semakin dekat, kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah ranca buaya. Ditengah perjalanan, gundukan pasir di kanan jalan kearah Cidaun menarik perhatian saya, dan tanpa pikir panjang segera kubelokkan iron blue ke lokasi tersebut. Hamparan pasir berwarna hitam serta bukit bukit pasir membuat pemandangan yang berbeda dari pantai pantai yang biasa kita kunjungi.

Indah ya




Tempat yang cocok untuk merenung


dan tentunya selfie

 

Berat untuk meninggalkan tempat ini tapi kita harus segera melanjutkan perjalanan sebelum gelap. Pantai Jayanti kita lewati dan Ranca Buaya masih 26 km didepan kita. Perjalanan yang berat sebelumnya benar benar membuat kita bertiga ingin segera merebahkan badan. Memasuki ranca buaya kita sudah dicegat untuk membayar retribusi sebesar Rp.5000,- per orang. Setelah menentukan penginapan, Zahra dan saya ingin melihat sunset sedangkan istriku sudah baringan. Jahitan bekas operasi usus buntunya terasa nyeri. Ikan bakar menjadi pilihan kita untuk mengisi perut supaya kita punya energi cukup untuk hari berikutnya.
 
Senja di Ranca buaya

“Zahra, mau lihat nelayan mau berlayar ga?” tanyaku pagi hari keesokan harinya. “Mau dong, yuk Abi.” Setengah berlari dia menuju pantai dan menarik narik tanganku. Tampak beberapa nelayan sedang berusaha mendorong kapalnya kelaut dengan memanfaatkan daya tarik ombak. “Mereka hebat ya abi. Kalau kita belum tentu kuat seperti itu,” kata Zahra. Aku hanya tersenyum simpul mendengar celotehannya. Kita menyusuri pantai tersebut, tampak hamparan rumput laut yang dikeringkan disepanjang pantai. Rupanya tidak hanya ikan yang menjadi sumber mata pencaharian penduduk disana tapi juga rumput laut menjadi sumber penghasilan tambahan. Pantai yang berkarang dan ombak yang besar membuat kita tidak berani berenang.


tampak para nelayan berusaha mendorong kapal mereka ke laut


dan mulailah mereka berlayar

Setelah puas berkeliling, segera kita berbersih diri dan melanjutkan perjalanan. Pemberhentian pertama puncak guha yang kesohor. Jarak antara Rancabuaya dan Puncak Guha hanya berjarak sekitar 3 km, jika dari arah Rancabuaya posisinya ada di kanan jalan. Tampak beberapa bikers yang sudah nenda disana, sayangnya terlihat banyak sampah plastik berserakan disana sini. Salah satu bentuk mengagumi keindahan alam adalah dengan menjaganya bukan merusak dan mengotorinya. Bau khas kotoran kelelawar juga lumayan santer tercium, sepertinya dibawah tebing tersebut ada rongga tempat kelelawar tersebut tinggal.


pemandangannya memang spektakuler

Sambil berharap suatu hari bisa melihat sunset di puncak guha, kuarahkan Iron Blue ke arah santolo, rencananya kita akan ke Garut via pamengpeuk. Jalanan sudah mulus tidak seperti ketika kita lewat daerah ini 2 tahun yang lalu yang masih rusak. Perjalanan relatif lancar, dari pamengpeuk menuju cikajang perjalanan didominasi tanjakan, dan sesekali turunan dengan kelokan yang bervariasi, benar benar memanjakan mereka mereka yang suka cornering. Mendekati Cikajang jalanan baru mulai tak rata. Hamparan perkebunan teh memanjakan mata kita dan segarnya udara perbukitan mengisi rongga dada.


perkebunan teh


air turun dari atas di pinggir jalan

Memasuki kota Garut waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, kita setuju untuk rehat di salah satu kota favorit kita untuk memanjakan perut. Bagi kami bertiga, makanan di Garut enak enak, hampir tidak pernah kami membeli makanan yang kurang berkenan di lidah ketika berada di Garut. Malam itu, Zahra untuk pertama kalinya mencoba es krim goreng, sedangkan istriku memesan pisang Turki dan aku sendiri memilih batagor dan roti bakar untuk memuaskan rasa lapar. Selesai memuaskan indra pengecap, kita langsung istirahat supaya makanan yang telah disantap, terserap sempurna dan menjadi tenaga untuk keesokan harinya.

Kita sudah beberapa kali menginap di Garut, tapi belum pernah sekalipun mengunjungi kawah kamojang. Setelah berdiskusi dengan teman teman Chabi di Group WA, saya memutuskan untuk kesana, walaupun sempat khawatir dengan medan yang akan dilalui yang konon menurut om Dwi dan Rejoz cukup menantang. Setelah sarapan, dengan mantap kita menuju samarang untuk selanjutnya mengarah ke kamojang. Minggu itu banyak sekali muda mudi yang bercengkrama di pinggir jalan untuk sekedar ngobrol atau jalan kaki pagi. Trek yang naik terus menerus, membuat Iron Blue kepayahan. Perlu awalan yang pas untuk bisa menaklukan tanjakan demi tanjakan. Sayangnya dengan ramainya muda-mudi tersebut terkadang membuat saya mengerem yang membuat Iron blue kehilangan momentum. Sempat istri dan Zahra turun dari Iron Blue karena tidak kuat dengan tanjakan.


suasana khas pegunungan


rehat = selfie

Kamojang sendiri terletak di kaki gunung Guntur dan berada di perbatasan Garut dan Majalaya, Bandung. Disini juga terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi pertama di Indonesia yang dikelola bersama antara Pertamina dan PT Indonesia Power. Sepanjang perjalanan dari arah Garut, kita akan disuguhkan pemandangan khas pegunungan yang sejuk dan pesawahan yang elok. Lokasi wisata pertama yang akan ditemui adalah tempat penangkaran Elang Jawa. Sayangnya waktu itu kita tidak sempat mampir.


Kapan lagi bisa pose dekat pipa panas


medan menuju kawah kamojang

Memasuki kawasan wisata kamojang, kawah pertama yang akan ditemui adalah kawah manuk. Bagi saya kawah manuk lebih menyerupai danau kecil yang mengeluarkan uap panas. Konon diberi nama kawah manuk karena suara gelembung air yang keluar di kawah tersebut menyerupai suara kicauan manuk (burung)


kawah manuk yang lebih menyerupai danau


jangan lupa collect moments

Tak jauh dari kawah tersebut, kita diharuskan membayar karcis masuk wisata kamojang. Rp. 22.500,- yang harus kita bayarkan untuk satu motor dan tiga pengunjung. Ada beberapa warung penjual makanan dan minuman serta kamar kamar – lebih tepatnya bilik kecil jika pengunjung ingin berendam air panas di lokasi parkiran tersebut. Cukup berjalan 100 m kita sudah dapat melihat kawah kedua – kawah kereta api. Sama dengan sebelumnya, asal muasal pemberian nama memang karena kawah yang satu ini mempunyai tekanan gas yang sangat kuat. Seorang kuncen akan mendemonstrasikan kuatnya tekanan gas dengan meletakkan untaian botol plastik diatas gas tersebut dan akan terlempar tinggi diudara. Sedangkan suara peluit kereta api dihasilkan dari bambu yang sengaja diletakan oleh abah diatas semburan gasnya. Suaranya cukup memekakkan telinga.


menunggu atraksi si abah mengeluarkan suara peluit kereta


bambu yang digunakan untuk mengeluarkan suara peluit dan tumpukan plastik untuk atraksi.

Sedangkan kawah terakhir yang kita kunjungi adalah kawah hujan. Ini kawah yang paling asyik buat kita karena kita bisa menikmatinya langsung. Menurut abah Koko, kuncen kawah tersebut, para pengunjung bisa bersauna serta melakukan totok jarum menggunakan uap dan air panas di kawah tersebut. Ditengah lokasi tersebut, terlihat tumpukan batu yang mengepulkan asap. Si abah, menggunakan asap rokoknya untuk mengeluarkan uap. Anehnya, ada seorang pemuda yang mencoba meniru tapi uap tidak kunjung keluar. Masih menurut abah Koko, sauna alam ini mempunyai khasiat untuk kesehatan. Tak ayal banyak pengunjung yang datang untuk berobat disini.


Abah koko, kuncen kawah hujan


hot stones untuk sauna alam


tetap collect moments not things

Selesai bersauna ria, kita bergegas melanjutkan perjalanan. Teringat pesan dari penjual tiket di kamojang untuk ekstra hati hati ketika melanjutkan perjalanan ke Majalaya, terutama karena kita memakai matic. 5 menit perjalan awal terasa lancar, selanjutnya benar benar membuat saya berkeringat dingin. Turunan curam, atau turunan berkelok kelok itu biasa, ini turunan seperti huruf Z. patah patah dan curam sekali. Ditambah batu batu yang lepas dari aspal membuat saya ekstra berhati hati. Jika dirasa sangat curam, aku meminta istri dan anakku untuk turun, tidak mau ambil resiko. Hal yang ditakutkan terjadi, karena jalur yang ekstrim, kerja rem depan dan belakang menjadi ekstra. Rem depan blong karena kepanasan, dibantu rem kaki dan gundukan pasir dipinggir jalan, berhenti juga si Iron Blue.


Iron blue remnya blong kepanasan

Setelah beristirahat sebentar untuk mendinginkan rem, kusempatkan berjalan kaki untuk melihat medan didepan. Dan astaga turunan curam masih saja didepan mata. Kupinta istri dan Zahra untuk berjalan kaki sedangkan aku akan menyusul setelah rem mulai berfungsi. Judulnya ini bukan touring bagi mereka tapi hiking. Setelah bersusah payah akhirnya kami sampai di Majalaya pukul 1 siang. Segera mencari tempat makan dan istirahat sholat. Perjalanan dilanjutkan melewati Ciparay – Bandung – Cianjur – Puncak - Parung – BSD. Sepanjang perjalan dari Bandung ke BSD, kita bertiga dihajar hujan terus menerus, tapi Alhamdulillah kita selamat sampai rumah sekitar pukul 7 malam.
Tetap sehat, tetap semangat dan tetap keluyuran.
 
CollectmomentsNOTthings

Monday, May 4, 2015

Motorbiking@Ekspedisi Citoe, 1-2 May, 2015 #RideReport

oleh : Arief Tdour




Berkesempatan riding bersama teman-teman dari Perjalanan Cahaya untuk membantu masyarakat desa Citoe, Sindang Barang, Cianjur yang agak terisolir.

Dikampung yang di huni sekitar 25 KK ini hanya berjarak 8 km dari pusat kota Sindang Barang yang terang benderang, ironisnya di Citoe tidak terjangkau aliran listrik. Jarak 8 km di tempuh selama hampir 1,5 jam dengan motor ( pulangnya makan waktu 5 jam karena malamnya hujan, jalanannya licin bingit cuy ), diawali jalan makadam kasar alias susunan batu kali yang hanya di susun menutupi jalan tanpa di ratakan, yang sangat sulit di lalui dengan motor berbeban penuh oleh buku-buku sumbangan dari teman-teman donatur untuk Madrasah setempat, setealah naik turun jalan makadam hampir 5 km, rombongan di suguhi jalan tanah menanjak di sambung dengan turunan curam dari batu cadas yang licin untuk memasuki desa Citoe yang memang berada di lembah nan asri.



Oya .. Perjalanan Cahaya adalah sekumpulan riders yang suka menelusuri pelosok negeri untuk mengetahui permasalahan sosial yang di hadapi masyakarat pelosok (khususnya desa non listrik) dan mencoba mambantu, untuk desa Citoe di coba pengadaan listrik dengan solar sel system tenaga matahari, di pasang 5 solar sel untuk kampung Citoe, rombongan juga membantu pengadaan buku-buku agama dan 1 set rebana untuk Madrasah baru berdiri di desa tetangga, desa Batu Korsi dimana anak-anak desa Citoe bersekolah.
Terima kasih untuk teman-teman donatur, amanah yang di titipkan kepada saya sudah saya sampaikan langsung, ... tengkyu temans ,di tunggu donasinya di expedisi selanjutnya ... semoga barokah .. aamiin Ranu Pane, Rijal Wong Java, Fajar Nadnad, Beni Sugama, Dewi Sulistio, Hadi Mali Rusyanto, Yuni Andriyani, Wok Wok Woko

Foto-foto lain kilik disini

Perjalanan Menuju Cahaya Citoe #RideReport

oleh : Rama Bargawa (Yandi Hidayat)

Citoe nama satu kampung di selatan Cianjur. Ejaan lama mungkin dibaca “Citu”, tapi sekarang berdasar bunyi hurupnya jadi Citoe. Toe? , adalah nama sejenis Kijing yang lebih kecil .Kebanyakan ada di sungai-sungai kecil dan empang. Mereka menamai nama kampungnya Citoe berdasar nama sungai yang menjadi urat nadi kehidupan kampung di suatu lembah tersebut. Tapi, menuju Citoe lah perjalanan panjang dan berliku dimulai…………

Kamis, 30 April 2015
Menjelang Ashar, dua sahabat di team perjalanan cahaya, datang menjemput. Sebut saja namanya Yudi Raisa dan mas Suyut. Pengepakan barang bawaan di masing-masing tunggangannya. Kabel, Lampu ,dan alat lainnya. Semuanya beres, sesudah ashar barulah berangkat  Diiringi tatapan penuh kekhawatiran sang istri……….huuh lebay yah….. 

Sepakat kami menyusuri jalan alternative di Purwakarta ini karena rame di jalan utama sebab adanya libur panjang awal Mei. Pasawahan-Bojong-Sawit-Darangdan dan langsung nyebrang ke Bandung Barat via Jembatan Cisomang yang terkenal itu. Menjelang Magrib, kami sampai di Rajamandala,  Istirahat untuk shalat magrib.



Setengah jam sesudahnya berangkat lagi menuju kota Cianjur via jembatan lama Rajamandala. Titian legendaris sewaktu dilewati bus-bus Bandung ,Tasik,Garut, Banjar,menuju Jakarta dan sekitarnya  disaat  jalan tol Cipularang belum dibangun. Sekarang?....tinggal kenangan saja.
Ciranjang sudah terlewati, saatnya masuk jalan baru by pass Cianjur menuju langsung kearah Sukabumi. Sepi dan mulus jalannnya. Dua sahabat dibelakang saya kelihatan gatal untuk menarik tuas gas lebih dalam…..haha….tapi tidak nyalip juga……..mungkin kurang tau rute atau….ah sudahlah……….
Cianjur-Sindangbarang. Jalan kabupaten Cianjur membentang didepan mata. Awal mulusnya sampai kecamatan Cibeber saja, setelahnya?, Lubang sana sini. Rider dituntut awas mata, kalau tidak mau menghantamnya. Jam delapan malam menjelang, saatnya istirahat tidur. Dicarilah perkebunan the yang ada lapang luasnya buat tenda. Kami memang mempersiapkan perjalanan ini dengan tendanisasi. Saatnya tidur, sahabat……………………zzzzzzz…………………………….




 
Jum’at, 1 Mei 2015
Pagi dingin menerpa wajah begitu bangun diperaduan sederhana dalam tenda.  Semburat fajar disambung terbitnya dipermukaan pegunungan ditimur kecamatan Campaka ,Cianjur. Paking barang-barang untuk lanjut perjalanan yang tersisa delapan puluh kilometer lagi. Sarapan dipintu keluar perkebunan. Nasi goring campur telor andalan menu warungnya. Beberapa kali diklakson rider-rider yang akan liburan ke pantai selatan.
Tepat jam sepuluhan tibalah di Sindangbarang untuk titik kumpul pertama sahabat-sahabat seperjalanan nanti. Buka sosial media untuk check posisi  masing-masing. Ternyata ,masih sekitar 1-2 jam lagi tibanya. Saya memutuskan untuk langsung saja menuju kampung Citoe ,dengan bekal keterangan pak Edi, seorang yang dipercaya Mang Dedi buat memandu kami.
Blasss…….Gang masuk pertama ,kami langsung disuguhi jalur Ajaib. Batu tatakan yang tak rata dan tanah lumpur. Gual geol SiOnta dengan beban Kabel 500 meter cukup membuat degdegan ridernya. Di suatu turunan , saya berhenti sejenak untuk mengukur nyali menyusurinya. Dua Sahabat, sukses melewatinya. Kini giliran saya……….Alhamdulilah bisa juga berkat advis kedua sahabat itu. Giliran trek di persawahan,barulah saya menyerah……….barang bawaan oper alih posisi. Nol beban………jadinya…ringan…dengan seperti itu, semangat membara lagi…….ayo temans kita lanjut…….Sepeaker masjid Al Amin bergema disaat kami tiba di kampung Batu Korsi ,kampung pertama tujuan  Bakti negeri perjalanan cahaya. Istirahat dan shalat jum’at disini.
Citoe masih 1,5 km lagi. Setelah ramah tamah sama pengurus madrasah,kami lanjut. Jalanan batu berganti tanah terus menuju cadas……….turunan pertama sukses,kedua Alhamdulilah ,ketiga selamat, keempat ?!, barulah siOnta mencium cadas untuk pertama kali di jalur ekspedisi Citoe ini. Memang! Skil ilmu berkendara memang kurang plus nyali juga ciut, akhirnya ya………….sesuai foto dibawah ini…..sepuluh menit gogoleran menunggu bantuan ngangkat SiOnta yang berat..yups…..jam 2 siang ,tibalah kami di kampung terpencil itu.

Sambutan ramah khas tanah Pasundan menyambut kami. “Gek Sor” , itu istilahnya. Tidak banyak waktu berdiam diri, kami langsung mengukur perimeter buat pemasangan instalasi tenaga matahari. Jam 3 an mulai bekerja, Alhamdulilah menjelang Magrib sudah menyelesaikan lima rumah. Satu persatu sahabat di berbagai kota mulai berdatangan. Kenal di dunia maya bertemu di dunia nyata. Haha hihi kaya kenal lama, lanjut istirahat sebentar , sebelum mandi disungai sesuai kebiasaan penduduk setempat. Tidak ada dinding pemisah dan penghalang, semua terbuka. Awalnya ragu-ragu celana…selanjutnya…..? ,terserah Anda………..! malam  ditemani nyamuk yang banyak, setelah ngobrol ngalor ngidul, saatnya tidur………………………..Zzzzzzz……………………………………….


Sabtu, 02 Mei 2015












Pekerjaan panjang dimulai. Semua bergerak tak terkecuali penduduk setempat juga dikerahkan untuk membantu. Alhamdulilah jam sepuluhan sudah menyelesaikan 20 rumah untuk instalasinya. Tinggal nyambung ke tenaga Mataharinya yang disimpan sebagai arus listrik di ACCU. Terkemukalah si Ahmad, pemuda penduduk setempat yang begitu cepat menguasai  instalasi ini. Satu persatu Sahabat mempersiapkan kepulangannya….galau semalam hujan deras bisa membuat jalan tidak bisa dilewati motor tanpa adanya tambahan asesoris. Dan benar saja………beberapa sahabat tertahan di tanjakan kedua. Lelah adalah penyebabnya. Setengah hari berkutat dengan instalasi. Saya selaku wakil kepala rombongan mempercayakan kelanjutan pemasangan yang tinggal empat rumah lagi kepada si Ahmad. Jam sebelas semua naik satu persatu tanjakan.

Amazing Journey Start Here














Skil pengendara, ketangguhan mesin, torsi, dan pemilihan ban yang tepat semua diuji disini. Butuh empat jam untuk menaklukan jarak 1,5 km tersebut. Alhamdulilah ,semua naik menjelang jam 2 siang. Sore baru masuk Sindangbarang, istirahat makan. Satu dua pamit pulang ke rumahnya masing-masing. Sebagian  diskusi untuk kemping menghabiskan akhir pekannya. Saya dan Asep memutuskan pulang karena badan ngedrop pengen cari kasur empuk,sedang Asep ada acara dikampusnya. Cidaun-Naringgul-Balegede-Rancabali-Soreang-Batujajar adalah rute pulangnya. Alhamdulilah, jam delapan malam menemukan juga kasur empuk di Batujajar. Keesokan paginya lanjut menuju Purwakarta. Disambut si Raffi didepan rumah……………………………………………………

#sebagian foto-foto milik kang Arief Tdour dan Yudi Permana

CAG