Tuesday, September 22, 2015

KARTALA EDISI KAMPUNG LEBAKSIUH & DESA CIPANGERAN

(FOTO: Dendy Julius, Andre Irawan, Asep Ikhsan, Dya Iganov, Arief Tdour) 
(Video: Yudi Permana)

Setelah pemasangan instalasi panel surya dan pembuatan taman baca Cahaya di beberapa kampung seperti Palasari, Cisoka, Balekambang, Citoe, Cigumentong, Cimulu, Cijuhung, Cikujang, kali ini tim Kartala fokus pada Kampung Lebaksiuh dan Desa Cipangeran. Secara administratif, Kampung Lebaksiuh berada di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dan Desa Cipangeran, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Info mengenai kondisi dan keberadaan Kampung Lebaksiuh pertama kali didapat dari Yudhistira Anggara dari grup motor Bajaj Cimahi yang sekaligus berprofesi sebagai penyuluh pertanian di wilayah kerja Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. 

MEI 2015
Setelah mendapatkan info mengenai kondisi Kampung Lebaksiuh, tim Kartala melakukan survey. Survey kali ini diikuti oleh 5 orang voluntrider (001, Yudi, Yudhistira, Ogie, Sandy). Perjalanan menuju Kampung Lebaksiuh yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari jalan utama menuju Bendungan Saguling  memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Lama perjalanan yang dihitung yaitu dari Wanamandala Cengkrong. Kondisi jalan menuju Kampung Lebaksiuh saat survey berubah menjadi lumpur karena masih dalam musim peralihan hujan-kemarau. Jalur menuju Kampung Lebaksiuh berupa single track tanah dan sebagian besar menyusuri gawir di tengah hutan pinus dan perkebunan warga. Untuk video survey Perjalanan Cahaya Kampung Lebaksiuh, silahkan klik di link di bawah:


Hasil survey Perjalanan Cahaya kali ini, ternyata Kampung Lebaksiuh sudah memiliki pembangkit listrik tenaga surya pemberian dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, tetapi belum dirasa maksimal dan masih ada beberapa kendala, salah satunya yaitu daya tahannya yang hanya bisa sampai pukul 09.00 malam (sekitar 6 jam pemakaian full). Hasil dari obrolan dan sosialisasi singkat tim Kartala kepada warga Kampung Lebaksiuh (termasuk ketua RW), akhirnya Kampung Lebaksiuh yang semula bukan tujuan utama kegiatan Tim Kartala menjadi salah satu kampung yang akan difokuskan pada beberapa bulan ke depan. Hal ini karena adanya permintaan dari warga Kampung Lebaksiuh yang tertarik untuk memasang instalasi panel surya seperti yang sebelumnya digunakan oleh Tim Kartala di beberapa Perjalanan Cahaya.

13 JUNI 2015
Sesuai permintaan warga Kampung Lebaksiuh, maka Tim Kartala yang terdiri dari 7 orang Voluntrider (001, Suyut, Andre, Asep, Yudi, Mohammad Firmansyah, Nugraha Suryadireja) sepakat untuk melakukan pemasangan instalasi panel surya untuk 3 rumah pada Sabtu, 13 Juni 2015. Pemasangan perdana instalasi panel surya oleh Tim Kartala di Lebaksiuh kali ini ternyata bukan untuk yang terkahir kalinya. Setelah pemasangan instalasi untuk 3 rumah, ternyata ada tambahan permintaan untuk 6 rumah di Kamung Lebaksiuh. Tidak hanya pemasangan panel surya, untuk kegiatan berikutnya, Tim Kartala bermaksud untuk membagikan alat tulis dan buku untuk anak-anak di Kampung Lebaksiuh setingkat SD.

DOK 13 JUNI 2015 

DOK 13 JUNI 2015 

DOK 13 JUNI 2015 

DOK 13 JUNI 2015 

DOK 13 JUNI 2015 

DOK 13 JUNI 2015 

DOK 13 JUNI 2015 


Catatan Perjalanan: (Andre)
https://andrebastard.wordpress.com/2015/06/18/perjalanancahaya-di-lebaksiuh/

1 AGUSTUS 2014
Sesuai permintaan warga Kampung Lebaksiuh, kali ini tim Kartala yang terdiri dari 13 orang voluntrider dari Bandung, Purwakarta, Cikarang, Sumedang, dan Yogyakarta. Kegiatan Kartala kali ini difokuskan pada pemasangan instalasi panel surya di 6 rumah dan pembagian alat tulis bagi anak-anak di Kampung Lebaksiuh setingkat SD sehubungan dengan kembali dimulainya kegiatan belajar mengajar tahun ajaran baru. Kegiatan kali ini cukup membutuhkan banyak tenaga voluntrider karena harus membawa logistik yang cukup banyak serta pembagian tim agar dapat menyelesaikan pemasangan dalam satu hari saja. Kegiatan dimulai sekitar pukul 11.00 dan selesai pukul 14.00 kemudian dilanjutkan dengan pembagian buku dan alat tulis. Kegiatan pemasangan panel surya dan pembagian buku selesai pada pukul 16.00. Hasil dari kegiatan kali ini yaitu adanya permintaan tambahan pemasangan instalasi panel surya untuk Wanamandala Cengkrong (camping ground) yang lokasinya tepat berada di jalur masuk menuju Kampung Lebaksiuh. 

Catatan Perjalanan: (Asep)
http://www.ikhsan2794.blogspot.co.id/2015/08/blusukan-dalam-ironi-memaknai-arti.html

Catatan Perjalanan: (Dya Iganov)
http://dyaiganov.com/perjalanan-cahaya-lebaksiuh-kampung-dengan-listrik-terbatas-di-sisi-plta-saguling-3/


DOK 1 AGUSTUS 2015 

DOK 1 AGUSTUS 2015 

DOK 1 AGUSTUS 2015 

DOK 1 AGUSTUS 2015 

DOK 1 AGUSTUS 2015 

DOK 1 AGUSTUS 2015 

DOK 1 AGUSTUS 2015 
DOK 1 AGUSTUS 2015 


29 AGUSTUS 2015
Kegiatan tim Kartala kali ini difokuskan pada permintaan pemasangan instalasi panel surya di sebuah Masjid di Kampung Lebaksiuh dan 2 buah instalasi panel surya untuk Wanamandala Cengkorng (50 wp). Pemasangan di Wanamandala yang sekaligus permintaan dari pengelola dimaksudkan sebagai pengetahuan bagi pelajar.pengunjung mengenai energi terbarukan sekaligus sebagai penerangan area wanawisata. Kegiatan lainnya yaitu pembagian sembako bagi warga di Kampung Lebaksiuh yang terdiri dari 38 KK dan alat tulis serta buku bagi anak-anak setingkat SD di Kampung Lebaksiuh. Kegiatan kali ini diikuti oleh 13 orang voluntrider (Mang Dedi, 001, Bambang, Ogie, Arief Tdour, Ahmad Arief Budiman, Galang, Khalifah, Iwan, Dendy, rekan Pak Bambang, Adhi Daksa Ardhianto, Onie) dan juga mendapat bantuan buku dan alat tulis dari CSR PT. Jati Jaya Mandiri. Hasil dari kegiatan ini yaitu adanya perminataan pemasangan instalasi di Desa Cipangeran (yang letaknya bersebelahan denga Kampung Lebaksiuh) yang akan dilaksanakan pada pertengahan September.

DOK 29 AGUSTUS 2015 

DOK 29 AGUSTUS 2015 

DOK 29 AGUSTUS 2015 

DOK 29 AGUSTUS 2015 

DOK 29 AGUSTUS 2015 

DOK 29 AGUSTUS 2015 


19 SEPTEMBER 2015
Kegiatan Kartala kali ini bekerja sama dengan Serdadu Cahaya Jakarta untuk pemasangan instalasi di Desa Cipangeran. Tim Kartala sendiri terdiri dari 7 orng voluntrider (001, Mang Dedi, Aria, Bambang, Riesvan, Aughie, Iwan) dan selebihnya adalah rekan-rekan Arief Tdour dari Serdadu Cahaya Jakarta. Desa Cipangeran secara administratif berada di Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Secara akses, lebih mudah jika masuk melalui jalur menuju Kampung Lebaksiuh. Akses lainnya yaitu dengan menyeberangi Waduk Saguling dan melewati jalur single track yang jauh lebih sempit dari yang menuju Kampung Lebaksiuh dan berada di pinggiran gawir. Dalam kegiatan kali ini, Tim Kartala mendapat bantuan sumbangan 1 set panel surya lengkap dan lemari kecil untuk Taman Baca Cahaya dari tim Serdadu Cahaya Jakarta. Sumbangan lainnya yaitu Al-Quran dan Iqra bagi masjid yang berada di Desa Cipangeran. Hasil dari kegiatan lainnya kali ini adalah pembagian kupon daging kurban yang akan dilaksanakan pada 26 September 2015 mendatang. Informasi terakhir yang didapat mengenai ketersediaan energi listik di Kampung Lebaksiuh dan sekitarnya yaitu akan adanya peningkatan kapasitas pembangkit tenaga surya milik pemerintah Kabupaten Bandung Barat di akhir tahun 2015. 

Terkait kegiatan Kartala, meksipun untuk hitungan September ini sudah selesai untuk pemasangan di Kampung Lebaksiuh dan Desa Cipangeran, tetapi masih ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu pembagian daging kurban di Kampung Lebaksiuh dan Desa Cipangeran yang serempak diadakan oleh tim Kartala di Kampung Lebaksiuh, Desa Cipangeran, Kampung Palasari, dan Kampung Cisoka. Pemeliharaan instalasi yang sudah dipasang sebelumnya pun akan tetap dilakukan sesuai dengan umur pemakaian dan juga tidak menutup kemungkinan untuk pemasangan kembali instalasi jika ada permintaan dari warga selama ketersedian pasokan energi listrik dari pemerintah setempat masih belum memadai.















Thursday, September 17, 2015

PERJALANAN CAHAYA LEBAKSIUH: KAMPUNG DENGAN LISTRIK TERBATAS DI SISI PLTA SAGULING

Perjalanan Cahaya kali ini akan mengunjungi Kampung Lebaksiuh, Desa Ciptaharja, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat untuk pemasangan instalasi di 6 rumah dan pembagian alat tulis untuk anak-anak di Kp. Lebaksiuh, berhubung ini masih minggu-minggu awal kegiatan belajar dimulai setelah libur panjang hampir 1 bulan lebih. Kali ini tim Perjalanan Cahaya terdiri dari 13 orang yang berasal dari berbagai daerah, seperti Cikarang, Purwakarta, Bandung, bahkan datang langsung dari Yogyakarta. Tikum disepakati di Rajamandala jam 09.00. Sedikit terlambat datang ke titik kumpul, ternyata kami bertiga (saya, Andre, dan Asep) ternyata bukan yang paling akhir datang, masih ada 3 orang lainnya yang belum datang, termasuk teman kami dari Yogyakarta. Singkat cerita, dua orang teman kami, kami tinggal, berhubung satu orang sudah tahu jalan menuju lokasi untuk mempersingkat waktu karena rumah yang harus kami pasang instalasinya ada 6 dan ditargetkan agar selesai sebelum sore. Sekedar informasi, pemasangan instalasi ini maksudnya adalah panel surya dengan lampu LED yang lebih hemat energi. Pemasangan dan pemberian alat ini menggunakan sistem sumbangan sukarela dari teman-teman, jadi bukan pemasangan panel surya skala besar untuk satu kampung atau desa sekaligus.
 
Jalur Memacu Adrenalin dan Tenaga ke Lebaksiuh
Mungkin sedikit berlebihan, tapi untuk saya yang masih baru-baru ketagihan motor-motoran ke jalan yang ‘ga normal’ sekaligus pertama kalinya ke Kp. Lebaksiuh, kondisi jalur yang ga seberapa jauh ini lumayan bikin jantungan dan ga berani nengok kanan-kiri (salah satu penyebab minimnya foto jalur Lebaksiuh). Perjalanan dimulai dengan menyusuri aspal yang tadinya mulus ke arah Bendungan dan pembangkit Saguling. Siapa sangka, ga seberapa jauh kami menuruni jalan aspal yang tadinya mulus, tiba-tiba harus berbelok ke kiri jalan. Kalau yang tidak jeli atau tidak diberi petunjuk koordinatnya, sudah pasti, jalan ini akan terlewat karena memang hanya mirip jalan kebun, tapi ini belum seberapa. Di sisi kanan jalan terpampang baligo cukup besar mengenai keberadaan outbond camp yang tidak jauh dari pertigaan tadi. Jalan langsung menanjak dan disambut oleh batu dan tanah, berhubung sedang musim kemarau, jadi tidak ada lumpur dan digantikan dengan debu. Area camping ground ada di sisi kiri jalan dan jalan yang kami harus ambil ada di sebelah kanannya. Olahraga jantung dimulai dari sini.
 
Jalan setapak yang lebih mirip jalan-jalan setapak di jalur pendakian menuju ladang dan hutan adalah jalur utama terdekat dan termudah menuju Kp. Lebaksiuh. Single Track yang harus kami lalui ini, selain jalur utama warga menuju dan dari Kp. Lebaksiuh, juga merupakan jalur motor trail, jadi sudah dapat ditebak bagaimana kondisi jalannya. Meskipun tidak separah di jalur Gunung Sumbul, tapi jika musim hujan, perjalanan melewati jalur yang tidak seberapa jauhnya ini ke Kp. Lebaksiuh bisa memakan waktu seharian. Awalnya, di kanan dan kiri hanya ilalang yang lebih tinggi dari tinggi manusia, lama kelamaan, single trak mulai masuk ke area hutan pinus dan sudah mulai menanjak. Yang harus diperhatikan di hutan pinus ini, selain lebar jalurnya yang masih berupa single track dan menanjak, adalah akar pohon yang menonjol ke jalur dan tertutup daun pinus yang jatuh. Selepas hutan pinus dan beberapa tanjakan yang lumayan berat dan berdebu (karena musim kemarau), jalur akan mulai masuk ke area kebun dan hutan. Di sini, pemandangan di sisi kiri jalur mulai terbuka dan jurang sangat dalam serta deretan perbukitan gersang terpampang luas. Jalur single track dengan kombinasi pasir dan tanjakan cukup lumayan bikin sedikit was-was untuk saya yang pertama kali lewat sini. Terkadang, ketika menemui tikungan yang menanjak dan berpasir, ada batu yang sedikit menonjol dari tebing, jadi motor harus sedikit diarahkan mendekati tepi jalan denagn jurang. Dalam perjalanan kali ini, lumayan harus 4x turun karena kombinasi single track berpasir dan tanjakan panjang dan curam, ya, kali ini saya dibonceng teman saya.
 
Perjalanan menuju Kp. Lebaksih dari camping ground memakan waktu selama kurang lebih 40 menit (sudah termasuk harus trekking nanjak lumayan jauh beberapa kali). Di tengah jalan, saya sempat papasan dengan ibu-ibu warga Kp. Lebaksiuh yang baru selesai dari kebun. Kata ibu ini, kalau jalan kaki dari bawah (entah dari portal, entah dari camping ground) biasanya standar 2 jam. Ibu ini kalau tidak ada keperluan ke bawah, biasanya hanya berjalan kaki ke kebun setiap harinya. Pemandangan di sisi kiri jalan sebenarnya lumayan menghibur, tapi berhubung jalurnya sempit, jadi saya yang dibonceng pun jadi teralihkan untuk lebih merhatiin jalan dibandingkan view di sisi kiri, dan jurang yang sangat dalam. Setelah mungkin sekitar 40 menit, sampai juga kami di Kp. Lebaksiuh. Motor teman-teman kami sudah parkir di halaman rumah Pak RW Kp. Lebaksiuh.
 
Cerita dari Kampung Lebaksiuh
Setelah istirahat dan dua teman kami pun ternyata sudah sampai (masih belum ada kabar dari teman kami yang datang dari Yogyakarta), kami diberi briefing singkat dari Kang Rama dan kami pun dibagi menjadi beberapa tim. Saya, jujur saja, pertama kalinya terlibat langsung di kegiatan seperti ini hanya bisa mengingat kabel mana yang harus disambungkan ke mana pada bagian belakang panel surya, sama alasan kenapa menggunakan lampu LED dan beberapa komponen lainnya yang tidak seperti pemasangan panel surya pada umumnya, udah gitu aja. Akhirnya saya mutusin untuk ikut Kang Rama dan Pak RW biar bisa sekalian belajar langsung gimana cara masang dan apa-apa saja yang harus disiapkan. Rumah yang akan kami pasangi letaknya kalau ditarik garis lurus, hanya menyerong beberapa meter dari posisi rumah Pak RW, tapi berhubung dipisah sawah dan jurang, kami bertiga pun harus memutar jalan. Tim lainnya ada yang memasang di beberap rumah yang lokasinya dekat dari rumah Pak RW dan dua rumah yang letaknya paling jauh dan sudah masuk ke Kp. Cipangeran sebenarnya.
 
Rumah 1: Pendidikan, Listrik, Jalan, dan Air Bersih
Melintas pematang sawah kemudian masuk ke jalan setapak melintas kebun, itulah jalan yang harus kami lalui. Selepas pematang sawah, jalanan hampir semuanya ditutupi dedaunan kering dan full turunan. Oke, udah kebayang gimana nanti saya repotnya balik ke rumah Pak RW. Sampai di rumah pertama, ternyata yang punya masih di kebun. Sambil nunggu yang punya rumah datang, sambil nentuin mau dimana nempatin panel suryanya. Akhirnya, dengan pertimbangan pergeseran matahari kemana dan kemana, akhirnya dapat satu titik dan dengan pertimbangan waktu, akhirnya kami cari tangga dan pasang dulu panel suryanya. Ga lama ibu yang punya rumah datang. Setelah urusan pasang panel surya beres dan kabel juga udah ditarik ke dalem rumah, barulah dipasang pengaturannya sesuai request yang punya rumah. Sambil nunggu yang pasang instalasi, sambil minum lahang dan ngobrol singkat sama ibu yang punya rumah.
 
Sebenernya di rumah ibu ini ada bekas instalasi listrik. Rumah ibu ini termasuk yang kebagian listrik pemberian dari pemerintah, yaitu listrik tenaga surya yang sayangnya strategi dan capaiannya kurang pas. Kampung Lebaksiuh ini setidaknya sudah memiliki lembaran solar yang bisa menghasilkan kurang lebih 1000 VA, yang secara perhitungan bisa untuk mensuplai kebutuhan energi listrik untuk penerangan Kp. Lebaksiuh. Namun, bantuan pemerintah daerah ini belum bisa seperti yg diharapkan. Pukul 11 malam, kampung sudah gelap kembali karena daya listrik yang ditampung dalam aki tidak mencukupi walau sepanjang siang panel surya sudah menyerap energi. Sebagai alternatif lain, ibu ini ‘meminta’ jatah listrik milik tetangganya yang sudah menikmati listrik dari PLN. Dari segi biaya, memang, lebih besar pengeluran dengan menggunakan listrik dari PLN dibandingkan dengan menggunakan energi listirk dari sumber alternatif. Menurut ibu ini, setiap bulan, beliau membayar sejumlah uang ke tetangganya sebagai balasan karena diijinkan menyantol listrik, yang itupun hanya digunakan untuk penerangan ruangan utama saja. Dapur dan kamar-kamar tetap gelap. Total listrik hidup di kampung ini rata-rata hanya 6 jam saja dengan menggunakan panel surya bantuan pemerintah. Pemasangan instalasi panel surya dengan kombinasi lampu LED yang dikerjakan oleh teman-teman dari Kartala ini setidaknya bisa menambah waktu untuk pemakaian listik, yaitu hampir 12 jam. Pemasangan instalasi di rumah ibu ini, terdiri ari 3 lampu LED yang diapasang di teras rumah, dapur, dan ruang utama.
 
Dari rumah pertama ini, ada juga cerita tentang bagaimana Kampung Lebaksiuh terkadang hanya dijadikan ajang untuk kampanye para calon kepala daerah. Issu yang diangkat di Kp. Lebaksiuh ini kebanyakan adalah masalah listrik, pendidikan, dan jalan. Sayangnya, mungkin hanya pendidikan dan listrik yang sedikit demi sedikit mendapat perhatian. Masalah kondisi jalan, menurut beberapa orang yang berkepentingan yang pernah datang ke kampun ini, sangat tidak layak untuk dijadikan jalan, bahkan jika diajukan untuk pembangunan dalam program sekelas PNPM pun cukup susah, salah satu alasan yang saya tangkap dari Pak RW adalah karena lebar jalannya tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan ke dalam program tersebut. Nah, bukankah program tersebut tujuannya untuk membuat kawasan dan daerah binaannya jadi lebih baik ya? Yang tidak layak menjadi layak, dan yang tidak bisa menjadi bisa? Ah, sudahlah, mungkin memang belum waktunya jalan ke Lebaksiuh dibuat layak. Bantuan yang datang malah dari seorang dokter gigi dari Jakarta yang membuatkan sarana MCK dan manajeman penyediaan air bersih yang cukup melimpah di Kp. Lebaksiuh ini. Singkat cerita, dokte gigi ini langsung meinta ijin pada Pak RW untuk melakukan kegiatannya tanpa embel-embel pengurusan birokrasi yang cukup jelimet. Hasilnya, tau-tau warga sudah disuguhkan tayangan di salah satu tv swasta yang memberitakan tentang kegiatan dokter gigi ini di Kp. Lebaksiuh. Dari sinilah, kemudian beberapa kegiatan dan peninjauan dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hal yang cukup lucu adalah ketika Pak RW bilang, ternyata belum pernah ada kegiatan KKN/KKM yang masuk ke Kp. Lebaksiuh ini, padahal untuk bidang pendidikan, masih banyak anak-anak yang putus sekolah, bahkan tertinggal jauh hanya karena masalah biaya. Sarana pendidikan yang ada hanya sebatas setingkat SD, itupun letaknya di kampung lain yang jaraknya 5 Km dari Kp. Lebaksiuh dan medan yang harus dilalui pun berupa hutan pinus dan kebun. Jadi, tidak ada yang namanya angkutan umum, apalagi angkutan khusus anak sekolah, yang ada hanya berjalan kaki sejauh 5 Km setiap hari menuju kampung yang secara topografi lebih tinggi atau dengan menebeng orangtua yang memiliki motor dan kebetulan sedang tidak terlalu sibuk bertani dan berladang. Permasalahan lainnya, yaitu, keterbatasan tenaga pengajar, dan kegiatan belajar mengajar di luar pendidikan formal. Mungkin ini bisa jadi salah satu kegiatan dari 1000 Guru ya. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kota Bandung dan jalan raya, mungkin bisa jadi salah satu point untuk kegiatan 1000 Guru di Kp. Lebaksiuh ini. Ini sih hanya pikiran saya aja siiih, syukur-syukur bisa beneran dilakasanakan, entah itu kegiatan KKN/KKM, 1000 Guru, atau kegiatan sosial lainnya. Pemasangan panel surya di Kp. Lebaksiuh pun hasil dari obrolan Pak RW dengan salah satu pengurus desa di Indramayu yang pemenuhan kebtuhan listriknya sudah terlebih dahulu menggunakan panel surya. Hasil obrolan ini akhirnya dibawa oleh Pak RW ke pihak terkaitda
 
Selesai pemasangan di rumah pertama dan berbekal cerita tentang ketersediaan listrik dan sarana pendidikan di Kp. Lebaksiuh, saatnya kami kembali ke rumah Pak RW untuk koordinasi kembali dengan teman-teman lainnya. Setelah diberikan arahan dan saran tentang tata cara penggunaan instalasi solar panel yang kami pasang, kami pun pamit. Tanjakan panjang dan sengatan sinar matahari yang cukup terik lumayan membuat saya cape. Sampai di ujung tanjakan, yang sekaligus pematang sawah, bawaannya mulai ngantuk. Ah, memang jamnya rawan tidur siang sih. Ternyata setelah sampai di rumah Pak RW, teman yang lain masih belum selesai memasang instalasi, dan kami pun mencar lagi. Ada beberapa yang pergi memasang instalasi ke dua rumah terjauh dengan medan yang lumayan lebih susah, ada yang ke rumah di sekitar rumah Pak RW.
 
Rumah Kedua: Rumah di Perbatasan
Pemasangan di rumah kedua yang saya datangi ini sudah hampir beres, hanya karena ada salah pemasangan, jadi sedikit dibongkar dulu. Sambil menunggu teman selesai memasang instalasi, seperti biasa, menyimak obrolan teman-teman dengan pemilik rumah. Berbeda dari rumah pertama, rumah kedua yang saya datangi ini tidak ada bekas-bekas instalasi listrik. Menurut bapak yang punya rumah, rumahnya tidak kebagian jatah untuk instalasi tersebut, karena pemberitahuan pemasangan instalasi mendadak dan rumahnya lagi kosong. Selain itu, mungkin saja rumah bapak ini dikira sudah masuk Kampung Cipangeran yang tidak ada dalam anggaran penyediaan panel surya. Padahal, sebeneranya rumah bapak ini masih termasuk ke dalam Kp. Lebaksiuh, dan memang, tanah yang berada di halaman belakang dapurnya sudah masuk ke wilayah Kp. Cipangeran. Menarik!
 
Setelah pemasangan instalasi di rumah kedua ini selesai dan kami sedang membereskan peralatan, ternyata ada permintaan dari bapak ini untuk menambah pemasangan charger. Kami memang punya alat khusus untuk mengisi daya hp dan disambungkan dengan aki sumber panel surya. Memang, saat ini hp sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, dan bagi mereka yang tinggal di tempat yang tidak mendapat listrik atau listriknya terbatas, sudah pasti harus mencari cara agar hpnya tidak sampai mati. Menurut Pak RW, banyak warga Kp. Lebaksiuh dan Kp. Cipangeran yang sering menumpang mencharge hpnya di malam hari. Terkadang, jika tidak memungkinkan mereka harus menumpang di permukiman sekitar Waduk Saguling atau ke Rajamandala, yang artinya harus melewati jalur Lebaksiuh yang cukup merepotkan terutama pada musim hujan demi menjaga agar hp tetap aktif. Setelah diberikan pengarahan jika ingin menambah instalasi untuk hp, bapak pemilik rumah pun membatalkan niatnya, karena menurutnya, pemakaian listrik untuk kebutuhan penerangan lebih penting untuk saat ini, biarlah anaknya yang masih muda ini menumpang dulu jika ingin hpnya tetap aktif. Untuk penerangan sehari-hari, karena tidak kebagian jatah panel surya dari pemerintah, sebagai gantinya beliau diberikan lampu portabel yang juga dengan tenaga matahari. Dan hanya satu lampu untuk penerangan ketika malam hari.
 
Berhubung pemasangan sudah hampir selesai semuanya (hanya tinggal menunggu 3 rumah lagi), kami pun bilang agar anak-anaknya bapak ini yang masih sekolah, terutama di SD, untuk berkumpul di rumah Pak RW. Ibu pemilik rumah juga cerita, kalau anaknya yang masih kelas 2 SD ini malas ke sekolah karena jauh. Ternyata, maksud Ibu ini anaknya hari ini tidak sekolah, malas, karena bangunnya kesiangan, dan harus sangat buru-buru ke sekolah yang jaraknya sekitar 5 Km dan berjalan kaki ke arah perbukitan. Jadi, akhirnya anak ibu ini memutuskan untuk tidak sekolah hanya untuk hari ini saja. Setelah beres, kami pun pamit dan menuju rumah ketiga.
 
Rumah Ketiga: (Bukan) Koleksi Botol Obat
Sudah ada dua teman kami yang sedang memasang instalasi, jadi sebagian hanya menunggu dan kembali mengobrol dengan yang punya rumah. Nenek yang kami ajak ngobrol ternyata bukan pemilik rumah ini. Rumah yang kami sedang pasang instalasinya adalah rumah anaknya. Bapak pemilik rumah sesekali menengok ke halaman depan, sementara neneknya tetap menunggu pemasangan instalasi. Yang menarik perhatian saya adalah jejeran botol obat yang kebanyaka resep dokter menghiasi kayu penyangga rumah dari bilik bambu ini. Saya pikir, antara salah satu keluarganya adalah tenaga kesehatan atau memang ada yang sakit di rumah ini. Ternyata salah satu dari 4 orang cucu nenek ini memang sakit. Cucu nenek ini di rumah ini ada 4 orag, yang dua sudah sekelas SMP dan meneruskan pendidikan di Rajamandala dan sesekali saja pulang ke Kp. Lebaksiuh, yang dua lagi, masih kelas 3 (kalau tidak salah) dan satu lagi baru tahun depan masuk SD. Yang sakit ini adalah yang tahun depan masuk SD. Menurut cerita dari nenek ini, cucunya sudah 3 tahun ini sakit dan rutin 1 bulan sekali ke RS Cibabat di Cimahi, kalau sedang kambuh, bisa 1 buan 2 kali. Meskipun biaya sudah terbantu dari entah apa namanya itu, tapi tetap saja, dengan kondisi 3 tahun tidak ada perubahan, saya dan teman saya sempat berfikir bahwa cucu nenek ini hanya sebatas diberi obat untuk ‘meredakan’ jika sakitnya kambuh, bukan obat yang menyembuhkan dan sifatnya jangka panjang. Kami pun langsung menyimpulkan, mungkin karean keterbatasan biaya.
 
Nenek ini cerita, gejalanya selalu demam tinggi dan kejang-kejang, kalau sudah kambuh benar-benar repot. Kami sempat menduga mungkin terkena step, epilepsi, atau mungkin penyakit saraf lainnya, berhubung keterbatasan kami terhadap informasi di dunia kesehatan. Bahkan, ketika kami datang ke rumah ini untuk memasang instalasi pun, anak yang sakit ini langsung ketakutan dan diam di kamar. Kami dikira dokter dari RS yang mau memeriksa keadaannya. Bahkan, setelah nenek ini bilang kami bukan dokter dan bukan dari rumah sakit, anak tadi tetap tidak mau keluar. Kalau saya jadi dia pun, mungkin sedikitnya akan merasakan trauma, karena setiap bulan selama 3 tahun harus berhadapan dengan jas putih, bau obat-obatan, jarum suntik, dan penyakit yang harus dirasakan. Ah, inilah kenapa sebenarnya kegiatan sosial di Kp. Lebaksiuh ini harus sedikit ditingkatkan. Kami, hanya mampu membantu tentang masalah ketersediaan listrik dan pendidikan (dengan membagikan alar tulis dan beberapa barang untuk Musholla), sedangkan permasalahan lainnya seperti pendidikan, kesehatan, trasnportasi masih sangat dibutuhkan perhatiannya. Malah, Pak RW sendiri yang turun tangan memberi motivasi kepada para orangtua agar anaknya tetap sekolah, bukannya bekerja di ladang, sesulit apapun itu. Sebenarnya ada juga keinginan agar kesehatan anak ini mulai ditangani secara serius, bagaimanapun, anak-anak adalah penerus bangsa (kata iklan-iklan di tv sih). Siapa tau, anak ini nantinya yang bisa memajukan Kp. Lebaksiuh, tapi kalau sekarang sakit-sakitan dan tidak diperhatikan secara serius, siapa yang tahu?
 
Setelah dari rumah ketiga, kami pun kembali ke rumah Pak RW. Ternyata tim yang memasang instalasi di dua rumah terjauh belum juga kembali. Memang, katanya medannya cukup susah, harus sedikit naik ke bukit dan menyeberang sungai kecil. Sambil menunggu, akhirnya kami putuskan untuk langsung membagikan alat tulis ke anak-anak yang mungkin sudah satu jam berkumpul di rumah Pak RW sesuai intruksi Pak RW “Kalau nanti sudah pulang sekolah, kumpul di Musholla.” Kebanyakan anak-anak yang datang masih duduk di bangku SD. Berhubung anak-anaknya sudah lama nunggu kami selesai pasang instalasi, jadi sambutan dan motivasinya singkat saja. Beres pembagian alat tulis, ga lama teman-teman tim terakhir datang dan makan siang pun jadi. Menu makan siang sederhana, hanya nasi putih, ikan goreng, telur dadar, lalap, kerupuk, dan sambal khas Kp. Lebaksiuh. Sederhana sih, tapi nikmaaat bangeet, apalagi untuk saya yang sudah disambut trek ke Kp. Lebaksiuh yang cukup bikin ngos-ngisan, menu siang ini nikmaat, sambelnya apalagi, juaraaa!!!
 
Berhubung saya termasuk rombongan yang ga ikut nginep, jadi selesai makan siang langsung beres-beres dan pamit pulang. Perjalanan pulang lebih banyak turunanna, dan jauuh lebih bikin jantungan. Jalan setapak single track ditambah pasir yang lumayan gembur, batuan yang nongol dari tebing pas di tikungan, kombinasi yang pas buat bikin keputusan trekking itu udah paling bener. Untungnya temen saya yang bonceng jagoan bawa motornya, jadi, meskipun jantungan, tapi percaya sama yan bawa motor. Di tengah jalan, akhirnya temen kami yang dari Jogja nyampe juga. Ini pertama kalinya saya ketemu langsung sama Pakde Jul, sebelumnya hanya interaksi di sosmed. Salut, datang langsung dari Jogja dan mampir dulu ke satu acara di daerah Jonggol, baru menyusul kami ke Lebaksiuh. Perjalanan pulang lumayan lancar, meskipun jantungannya jadi dobel, soalnya beberapa kali ban belakang ngepot sana-sini di trek pasir dengan jurang di sisi kiri yang dalem banget. Akhirnya di turunan yang lumayan panjang sebelum masuk ke hutan pinus, saya pun mutusin untuk turun, berhubung ban belakang ngesotnya makin nyeremin gara-gara pasirnya yang lumayan tebel. Selepas hutan pinus, perjalanan lancar jaya sampai ke Bandung.
 
Sekilas Lebaksiuh
Lebaksiuh merupakan nama salah satu kampung di Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Rajamandala. Siuh merupakan nama tumbuhan merambat, buahnya seperti buah konyal atau markisa, namun kulit buahnya tidak sekeras buah konyal. Yang membedakannya, rasa buah siuh yang matang lebih segar, agak masam manis, dengan warnanya yang menarik, tidak sepucat buah konyal. Siuh rnempunyai mahkota bunga berwarna keputih-putihan dengan aromanya yang khas dan harum. Bunganya berkelamin dua (hema-prodit), termasuk penyerbuk silang dengan bantuan lebah madu. Namun, penyerbukan sendiri pun dapat berlangsung baik. Daun dan batang daunnya lebar menjari. Dalam bahasa Sunda, lebak bisa berarti lembah, lahan yang lebih rendah dari tempat kita berada atau lahan datar di antara dua bukit. Sangat mungkin, di tempat yang secara morfologi berada di lembah di antara dua bukit itulah tumbuh subur tumbuhan siuh yang buahnya asam manis menyegarkan sehingga menjadi ciri tempat. Nama tempat yang menggabungkan dua unsur, yaitu keadaan geomorfologi dengan nama tumbuhan.
Kampung Lebaksiuh ditinggali sekitar 30 KK. Kondisi lokasi Kampung Lebaksiuh berada di lereng perbukitan dan dominan arealnya merupakan lahan sawah, sehingga penempatan/letak rumah-rumahnya tidak berkumpul pada satu titik seperti kampung pada umumnya. Letak rumah tersebar dan hanya dihubungkan oleh jalan utama selebar jalan setapak, namun dilalui oleh sepeda motor warga. Bahkan, banyak juga rumah yang harus melewati pematang sawah terlebih dahulu. Kampung Lebaksiuh ini merupakan kampung yang letaknya tidak jauh dari PLTA Saguling, hanya saja ketersediaan energi listirk di kampung ini tidak dipasok dari salah satu pembangkit listrik terbesar di Jawa Barat ini. Ketersediaan listrik di Kampung Lebaksiuh dipasok dari solar sell yang setidaknya dapat menghasilkan kurang lebih 1000 VA, yang secara perhitungan bisa untuk mesuplai kebutuhan energi listrik untuk penerangan Kampung Lebaksiuh. Sumber listriknya sendiri berada kurang lebih beberapa Km dari Kampung Lebaksiuh. Jarak yang cukup jauh akan berpengaruh terhadap besarnya energi yang akan diterima dan kemudian dialirkan lagi ke masing-masing rumah di Kampung Lebaksiuh. Hal ini ternyata dirasa kurang efektif, selain energi yang diterima, penyuluhan tentang penggunakan alat elektronik beserta daya dan arus yang diperbolehkan kepada masyarakat pun dirasa kurang, sehingga, tidak jarang ada rumah yang menggunakan alat elektronik melebihi arus dan daya yang dierbolehkan. Akibatnya, tentu saja waktu pemakaian energi menjadi sangat berkurang dan akhirnya tidak efektif. Permasalahan utama keterbatasan pasokan listrik di Kampung Lebaksiuh mungkin bukan hanya dari faktor ‘terlupakannya’ Kampung Lekasiuh, bisa saja dipengaruhi oleh faktor biaya, modal, kemudahan akses bagi prasarana dan sarana listrik, dll.
 
Akses jalan pun tidak kalah sulitnya. Jalan yang selebar jalan setapak merupakan jalur utama dan terpendek jika ingin keluar dari Kampung Lebaksiuh. Jalur ini merupakan jalur yang langsung mengarah ke Kecamatan Cipatat dan Kecamatan Rajamandala. Jalur yang melipir tebing perbukitan dengan jurang yang sangat dalam di sisi lainnya serta kondisi jalur yang akan sangat berlumpur ketika musim hujan, tentu menjadi hal yang harus dihadapi oleh warga Kampung Lebaksiuh sehari-hari. Jalur lainnya yaitu menuju Desa Cihampelas, Kecamatan Cililin melalui Kecamatan Batujajar. Jalur ini jauh lebih sulit dan jarang digunakan oleh warga. Di ujung jalur Kampung Lebaksiuh, terdapat percabangan yang menuju Kecamatan Batujajar dan yang menuju Waduk Saguling melalui Desa Cihampelas dan harus menggunakan perahu untuk sampai di Cihampelas. Permasalahan lainnya di Kampung Lebaksiuh ini adalah kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan, bahkan kebanyakan anak-anak usia sekolah di kampung ini hanya sampai di bangku SD. Berbagai upaya dilakukan agar anak-anak dari Kp. Lebaksiuh dapat mendapatkan pendidikan hingga SMA, meskipun semenjak di bangku SMP mereka harus ke Kecamatan Rajamandala, Cipatat, bahkan tempat lainnya.
 
Sumber lainnya tentang Lebaksiuh:
 

BLUSUKAN DALAM IRONI, MEMAKNAI ARTI BERKENDARA ALA KARTALA



Hari Jumat, tanggal 31 Juli 2015 di grup Whatsapp Kartala VoluntRider sudah ramai sekali membicarakan tentang tujuan perjalanan cahaya selanjutnya, yaitu ke kampung Lebaksiuh.  Singkat cerita, saya berencana untuk berangkat bersama kang Ogi, namun rencana tersebut gagal karena saya lupa belum packing jadi saya berangkat sendiri karena harus packing terlebih dahulu. Pukul 06.00,

saya berangkat dari kostan di Sumedang langsung menuju ke Lebaksiuh. Singkat cerita, diperjalanan saya bertemu dengan mang andre dan mbak nadya. Tanpa pikir panjang kami pun langsung jalan bersama menuju tkp.


Perjalanan menuju ke Rajamandala membutuhkan waktu lebih kurang 1 jam 30 menit. Sesampainya di Rajamandala, langsung belok kiri menuju PLTA saguling. Ternyata, di gerbang PLTA saguling, kawan-kawan Bandunger sedang beristirahat. Disana ada Kang Dendy, kang Hermawan, kang Oni, kang Bambang, Mang Ogi dan satu lagi saya gk tau namanya dan gk sempat kenalan. . .  hehe


Kami bertiga memutuskan untuk bergabung dengan mereka, sedangkan kang Rama sudah duluan dan menunggu di lokasi camp ground. Setelah rehat sejenak, sambil ngobrol kesana kemari kami memutuskan untuk langsung naik menuju ke kampung Lebaksiuh. Mang Ogi di depan, disusul saya lalu kawan-kawan lainnya.


Dari gerbang, jalanan masih berupa jalan aspal yang cukup bergelombang dibeberapa titik. Setelah beberapa kilometer, kami belok kiri ke jalan tanah bercampur batu yang disusun. Dalam Perjalanan, kami menyusuri jalan setapak yang didominasi oleh tanah. Awalnya kami hanya disuguhi pemandangan lahan dan hutan milik perhutani, semakin keatas, trek yang kami lalui mulai semakin menantang. Jalan setapak dengan tebing di sebelah kanan dan jurang di sebelah kiri. Karena jalur menuju kampung Lebaksiuh, mengikuti alur bukit.




Akhirnya, sampai lah kami di kampung Lebaksiuh. Kang Rama, tampaknya sudah menunggu kedatangan kami. Kamipun memarkirkan kendaraan kami masing-masing dan langsung rehat sejenak setelah melibas trek yang cukup menantang apalagi jika dalam kondisi basah. Kami rehat sambil mendengarkan kang Rama teknis Instalasi solar cell beserta perangkatnya. Setelah selesai, kang Rama langsung membagi tim instalasi menjadi beberapa tim. Kebetulan, saya, mang DJ, mang oni, mang hermawan, sama mang fajar melakukan instalasi di salah satu rumah di dekat rumah pak RW. Langsung saja kami melakukan pemasangan. Tim tersebut dibagi dua, ada yang memasang solar cell di atap rumah dan saya sendiri bersama mang hermawan memasang perangkat led, kiprok, dan accu. Kebetulan kang oni bersedia menjadi pondasi untuk dinaiki mang fajar saat memasang solar cell di atap rumah. Proses perakitan perangkat tersebut sebenarnya cukup mudah. Tidak jauh berbeda dengan kelistrikan motor. Karena memang DC, agar dalam perawatannya tidak sulit. Akhirnya, selesai sudah proses instalasi di rumah tersebut.  


       Kang Rama sedang menjelaskan instalasi solar cell


Kang Rama sedang menjelaskan instalsi kiprok


Selanjutnya, saya merapat ke rumah yang sedang dilakukan instalasi oleh mas suyut bersama rekannya. disitu, sedikit saya membantu proses instalasi.


Mas Suyut sedang memasang lampu led.             
                   

Dalam setiap perjalanan bersama Kartala ini, selalu saja ada tingkat-tingkah para volunteer yang petakilan. salah satunya mas suyut. mungkin niat nya iseng-iseng semata. alhasil, efek petakilan itu seperti ini.

                   bishop Mas Suyut pengen bajak sawah.

Setelah semua proses instalasi selesai, kami kembali ke rumah pak RW untuk rehat kembali sambil menyiapkan buku-buku yang akan dibagikan kepada anak-anak di kampung tersebut. Pembagian buku, diberikan satu per satu pada anak-anak sesuai dengan jumlah yang sudah diperhitungkan sebelumnya.  Setelah pembagian buku, kami langsung makan bersama di rumah pak RW, karena sudah disediakan oleh beliau.



Sekitar pukul 15.00, mang Andre, mbak Nadya, mang Hermawan, dan mang Oni pulang lebih dulu. Karena memang mereka tidak akan camping. Kamipun langsung packing kembali untuk menuju camping ground yang tadi kami lewati. Karna sudah direncanakan sebelumnya akan camping. Saat kami packing, tiba-tiba ada satu motor lagi yang datang. Ternyata itu adalah pakde julianto. Dari kejauhan bertanya-tanya, siapa itu. Karna biasanya, pakde julianto selalu mengendarai jakrik(KLX150S). sambil packing kembali, pakde pun rehat sejenak. Mungkin karena belum rehat setelah perjalanan dari yogyakarta menuju Cariu kemudian merapat ke Lebaksiuh. Ditambah lagi menghadapi trek menuju kampung Lebaksiuh dan beban motor pulsar yang bebannya super mantap.

Sekitar pukul 16.00, kami langsung balik kanan menuju camping ground untuk bermalam disana. Dalam perjalanan, beberapa kali pakde mengalami trouble. Mungkin karna efek lelah dan mengantuk, sayapun mengalami hal yang sama. Pada saat trek menurun, ban belakang motor saya masuk ke parit kecil bekas galian ban trail, motor pun jadi limbung dan tak terkendali. Alhasil, motor saya melipir kekiri dan brakkkk!!! Stang sebelah kiri menabrak pohon pinus dan sayapun terlembar kedepan.  Body motor depan sedikit pecah, handguard pun patah dan saya sendiri mendapat luka di dagu karena terbentur ke pohon tersebut saat terlempar. Untuk mengembalikan konsentrasi, saya, mang rama dan mang ogi berhenti sejenak.

Setelah dapat berkonsentrasi kembali, kami pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di camping ground, kami langsung membayar biaya sewa tempat sambil tawar menawar agar murah, pakde pun turun tangan untuk menawar harga sewanya. Setelah menemukan tempat yang pas, kami pun langsung menuju titik camping ground kami. Sengaja tak langsung mendirikan tenda karena kebanyakan dari kami masih merasa lelah. Apalagi saya yang mendapat disekitar mulut cukup menyiksa. Saat mulai gelap, kami pun langsung mendirikan tenda.


Malam semakin larut. Sambil menunggu nasi matang, kami pun berbincang-bincang tentang berbagai hal, termasuk kronologi saat saya mengalami trouble. Nasi pun matang, kami pun langsung menyantap nasi beserta ayam yang tadi dibekal dari kampung lebaksiuh. Mata mulai kami pun, masuk ke tenda masing-masing. Sempat beberapa kali gerimis. Sekitar pukul 03.00 diluar terdengar cukup ramai. Ternyata, kawan-kawan yang lain sudah terbangun dan sedang menikmati hangatnya api unggun. Kembali kami berbincang-bincang sambil menikmati hangatnya api unggun. 


Pagi pun menjelang. Terlihat cahaya matahari mulai menembus rimbunnya daun-daun pohon pinus.

Pukul 07.00, kami mulai bongkar tenda dan packing kembali. Selesai packing, kami langsung balik kanan menuju Bandung. Di sekitar rajamandala, kami singgah terlebih dahulu di bubur ayam, mau ditraktir mang ogi katanya.... hihi :D
Selesai makan, pakde julianto dan mas suyut beserta rekannya menuju ke arah berbeda. Saya, mang ogi, mang rama dan mang DJ menuju ke arah Bandung. Sekian.

Original Posted: http://www.ikhsan2794.blogspot.co.id/2015/08/blusukan-dalam-ironi-memaknai-arti.html