Monday, May 22, 2017

PERJALANAN CAHAYA EKSPEDISI CITANGKIL 20-21 MEI 2017





Kegiatan Perjalanan Cahaya kali ini dilaksanakan di Kampung Citangkil. Kampung Citangkil, secara administratif berada di Desa Pameutingan, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dan berada pada koordinat -7.648509, 107.971640. Nama Citangki hanyalah sebagai nama pada pendataan wilayah administrasi. Kebanyakan warga di sekitar Desa Pameutingan dan kampung-kampung lainnya di sekitar lokasi, lebih mengenal Kampung Citangkil dengan nama Gunung Hujan.

Kegiatan Perjalanan Cahaya kali ini di Kampung Citangkil diantaranya pemasangan 15 set solar panel, pembagian buku bacaan, pakaian layak pakai untuk warga Kampung Citangkil, dan pembagian alat tulis untuk anak-anak usia sekolah di Kampung Citangkil. Kegiatan Perjalanan Cahaya di Kampung Citangkil dilaksanakan pada Sabtu-Minggu, 20-21 Mei 2017. Kegiatan Perjalanan Cahaya kali ini diikuti oleh 22 orang voluntriders (16 motor) dari berbagai daerah. Voluntriders yang hadir kali ini berasal dari Purwakarta, Karawang, Bekasi, Jakarta, Bandung, Indramayu, Sumedang, bahkan dari Yogyakarta sebanyak dua voluntriders.

Perjalanan dilaksanakan pada Jumat malam dengan tujuan pertama (titik kumpul) di Kecamtan Cipatujah. Sabtu pagi barulah seluruh voluntriders bergerak menuju Kampung Citangkil yang berjarak 20 Km dari titik kumpul di Kecamatan Cipatujah, tepatnya di belakang Koramil Cipatujah. Perjalanan menuju Kampung Citangkil ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Jalur masuk menuju Desa Pameutingan dimulai dari Ciheras.






Medan yang ditempuh untuk mencapai Kampung Citangkil tidaklah mudah. Pada awal perjalanan, jalanan dengan aspal mengelupas menjadi medan pertama yang ditempuh hingga batas pusat Desa Pameutingan. Selepas pusat Desa Pameutingan, jalanan akan berubah menjadi makadam dengan medan berbukit. Jalur berikutnya merupakan jalan tanah dengan lebar tidak lebih dari jalan setapak.Jalur tanah ini berada di lereng bukit, sehingga tanjakan dan turunannya lebih terjal. Jalan tanah ini juga melintas di tengah kebun dan area hutan, jauh dari permukiman penduduk.

Tidak ada petunjuk khusus untuk menuju Kampung Citangkil di sepanjang jalur dari Desa Pameutingan. Beberapa kampung memang sudah memiliki petunjuk arah sederhana yang dibuat dari kayu. Oleh karena itu, patokan untuk menuju Kampung Citangkil adalah dengan menanyakan arah Gunung Hujan atau bilang akan mengunjungi Pak Harun. 

Kegiatan pertama merupakan pemasangan 15 set panel surya yang dibawa oleh para voluntriders. Sebelum pemasangan, para voluntriders memberikan pengarahan tentang cara pemasangan komponen hingga ke tahap instalasi di masing-masing rumah. Tujuannya adalah agar sesama voluntriders, terutama yang masih baru pertama kali mengikuti kegiatan ini dapat memahami tahapan instalasi. Selain itu juga agar warga setempat juga mengetahui cara pemasangan hingga perawatan komponen. Pemasangan panel surya kali ini dilakukan oleh para voluntriders dan warga setempat.




Pemasangan panel surya dilakukan di lima belas rumah dan satu musola di Kampung Citangkil. Lokasi antar rumah tidak berdekatan, bahkan ada beberapa rumah yang harus ditempuh dengan menggunakan sepeda motor untuk menghemat waktu. Acara kedua, yaitu permainan dan pembagian alat tulis untuk anak-anak Kampung Citangkil. Acara ini dilaksanakan setelah makan siang liwetan yang sudah disiapkan oleh warga Kampung Citangkil. Anak-anak Kampung Citangkil masing-masing mendapatkan tas sekolah, buku serta alat tulis.

Kampung Citangkil (Gunung Hujan)
Kampung Citangkil merupakan salah satu kampung yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Cipatujah. Selama ini, hanya area pesisir Kecamatan Cipatujah yang banyak dikenal oleh masyarakat luar. Sedangkan area perbukitan masih tidak banyak dikenal, bahkan masih belum tersentuh infrastruktur yang layak. Jalan menuju Kampung Citangkil masih didominasi oleh makadam dan tanah dengan medan perbukitan.

Kampung Citangkil merupakan kampung yang berada di sebuah bukit beranama Gunung Hujan. Seluruh warga Citangkil memiliki mata pencaharian sebagai petani/butuh tani. Pada tahun 1962 Kampung Citangkil terkena penggusuran oleh suatu program milik PT. Perhutani hingga akhirnya lokasi Kampung Citangkil kembali menjadi hutan. Pada 2011, tepatnya pada 12 Desember 2011, Pak Harun kembali ke lokasi Kampung Citangkil karena keterbatasan ekonomi dan berusaha memulihkan kembali bekas Kampung Citangkil. Hingga kini, Kampung Citangkil memiliki 23 Kepala Keluarga yang berdomisili tetap, 14 diantaranya merupakan pindahan. Alasan pindah karena dulunya merupakan petani, tetapi tidak lagi memiliki lahan tani untuk digarap.

Sebagai petani, lahan garapan warga Citangkil berada dekat dengan permukiman dan masih dalam satu daerah yang sama. Dari hasil garapan lahan milik warga sendiri, akhirnya warga Kampung Citangkil kini tidak lagi menerima “Raskin”, tetapi mampu membeli beras sendiri dari hasil tani. Waga Kampung Citangkil memiliki kelompok tani yang bernama Sri Giri Jaya Mandiri.





Kampung Citangkil memiliki sembilan anak usia Sekolah Dasar (total dari kelas 1 hingga kelas 6) dan tujuh orang anak usia dini hingga TK. Anak-anak usia SD bersekolah di Sekolah Rakyat yang dibangun oleh Pak Harun. Sekolah Rakyat bertempat di rumah Pak Harun. Sekolah Rakyat Kampung Citangkil yang didirikan oleh Pak Harun kini telah mendapatkan status menjadi bagian dari sekolah jauh Darul Hikam yang berlokasi di Kecamatan Cikatomas. Dengan adanya status ‘Sekolah Jauh’, anak-anak Sekolah Rakyat di Kampung Citangkil dapat melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya (SMP dan SMA) di Darul Hikam yang berada di Kecamatan Cikatomas.

Sebelum ada Sekolah Rakyat di Kampung Citangkil yang kebanyakan siswa-siswinya adalah usia SD, anak-anak usia SD Kampung Citangkil bersekolah di sebuah SD di pusat Desa Pameutingan yang berjarak 7 Km dari Kampung Citangkil. Medan yang harus ditempuh dari Kampung Citangkil hingga SD di Desa Pameutingan bukanlah medan yang mudah. Jalanan dengan tanjakan panjang dan turunan curam ditambah dengan kondisi jalan yang akan sangat berlumpur pada musim hujan merupakan kondisi yang harus ditempuh anak-anak usia SD di Kampung Citangkil.

Para orangtua di Kampung Citangkil tidak mampu mengantar dan menjemput anak-anak mereka secara rutin, sehingga banyaknya siswa-siswi di Citangkil yang jarang masuk sekolah. Oleh karena itu, didirikan Sekolah Rakyat untuk memudahkan anak-anak di Kampung Citangkil memperoleh pendidikan.





Terdapa dua jalur termudah untuk menuju Kampung Citangkil. Pertama yaitu melalui jalur Cipatujah – Ciheras – Desa Pameutingan – Kampung Citangkil dengan jarak dari Ciheras kurang lebih 15 Km. Jalur kedua yaitu melalui Taraju – Bojonggambir – Desa Wandasari – Kampung Citangkil dengan jarak kurang lebih 32 Km.

Medan jalan didominasi dengan makadam dan jalur tanah, baik dari arah Ciheras maupun dari arah Taraju. Jalur yang dilewati akan banyak memasuki area kebun/hutan jika masuk melalui Ciheras. Bila masuk dari Taraju, jalur akan banyak melewati area kebun teh dan jalur akan cukup terbuka sehingga pemadangan lebih jelas di jalur ini.

Perjalanan sungguh luar biasa, kami ucapkan terima kasih kepada :
Volunteer Riders dan Donatur yang tak bisa kami sebutkan satu persatu

















FOTO: Dokumentasi Perjalanan Cahaya Kampung Citangkil
Arief Tdour
Bunda Ucu
Dya Iganov







Monday, February 20, 2017

Ekspedisi Jelegong

video perjalanan dan kegiatan eskpedisi Jelegong


Ekspedisi instalasi panel surya telah selesai dilaksanakan dipelosok Sukabumi tepatnya di kampung Jelegong, Ds. Buanajaya, Kec. Bantar Gadung. Pada tanggal 11- 12 Februari 2017. Di  kampung yang di huni sekitar 30 kk, dengan posisi kampung yang dikelilingi perbukitan yang sudah tentu keluar-masuk kampung memerlukan stamina yang sangat luar biasa, jalan tanah, batu, lumpur tanjakan-turunan curam sudah menjadi lalapan setiap hari warga Jelegong untuk menunaikan tugas keseharian seperti mengangkut hasil pertanian, sekolah dll.
Kami sebagai penyampai amanah sedikitnya meringankan beban yang dirasakan warga yaitu dengan instalasi penerangan dari panel surya untuk menerangi disudut-sudut rumah warga, pemberian buku, buku gambar+crayon, Iqra+Al-Qur'an, karpet untuk musholla dll.
Perjalanan sungguh luar biasa, kami ucapkan terima kasih kepada :
Pasir Arabia
Aksi kudaki
Komunitas Literasi Sukabumi
Menembus Batas Indonesia,
Volunteer Riders dan Donatur yang tak bisa kami sebutkan satu persatu


Monday, April 18, 2016

EKSPEDISI CIGUMENTONG 16-17 APRIL 2016



Teks: Nenden Suryani (Amih)
Foto: Nenden Suryani (AMih), Perjalanan Cahaya 

 
Hari kemarin, sabtu minggu tanggal 16-17 april, untuk yang ketiga kalinya saya ikut kembali ekspedisi Perjalanan Cahaya ke Kampung Cigumentong Kabupaten Sumedang. Ini adalah perjalanan ketiga yang saya ikuti (ikut suami) setelah Kampung Palasari Subang dan Kampung Dewata Bandung. Ekspedisi kali ini adalah untuk membagikan alat tulis sekolah dan buku iqro untuk anak-anak belajar mengaji al-qur’an, lampu portable tenaga surya yang bisa digunakan jika listrik PLN mati berhari-hari serta pakaian layak pakai untuk kegiatan berkebun warga disana.

Bertemu dan berkumpul di tempat kami pada hari sabtu, kami terbagi menjadi dua rombongan, rombongan pertama yaitu Pa Rama dan Ambu, Yudi, Epul, Kang Amir, mereka berangkat pada jam 2 siang, kemudian disusul dengan Wa Dimas dan Neng Ucu pada sore harinya. Saya perkirakan mereka sampai disana dalam keadaan cuaca masih terang benderang.. Sedangkan rombongan kedua yaitu Pa Dede, Ujang Bentar, Gobang, Kang Andre, Kang Genta, saya dan suami berangkat pada jam 8 malam. Suasana yang sudah mulai gelap gulita disertai derasnya hujan tak menyurutkan tekad kami untuk menempuh perjalanan menuju Kampung Cigumentong.

Perjalanan kami malam itu sempat terhenti sekitar kurang lebih satu jam di daerah Desa Tegalmanggung, dikarenakan ada mobil angkutan ayam ternak yang bannya terperosok ke dalam kolong jembatan yang sedang dibangun warga. Hujan besar beberapa hari yang lalu membuat jembatan tersebut ambruk tergerus air dan membuat desa saya juga mengalami bencana banjir bandang. 

Setelah berjibaku dengan waktu, dengan bantuan warga dan teman-teman volunteer serta penerangan dari lampu tembak motornya Pa Dede akhirnya mobil tersebut dapat terevakuasi dengan selamat dan kamipun dapat melintasi jembatan itu dengan aman. Jembatannya tidak seberapa panjang, tetapi karena dibuatnya masih dari kayu dan penuh lumpur membuat siapapun yang melewatinya harus ekstra hati-hati, jembatan tersebut menghubungkan jurang.



Saat itu hujan sudah reda perjalananpun kami lanjutkan kembali. Jalanan yang gelap dan licin membuat kami harus tetap waspada karena selain rumah-rumah penduduk dikanan kiri jalan juga adalah tebing-tebing tinggi yang ditanami kebun dan sawah masyarakat setempat.

Malam kian pekat. Sepanjang jalan keadaan sangat gelap gulita, meskipun banyak rumah warga tetapi sepertinya sedang ada pemadaman listrik sehingga suasana pun semakin sunyi senyap, yang terdengar hanya suara deru motor kami memecah keheningan malam. Para penduduk sudah terbuai dengan mimpinya masing-masing, kami masih terus memacu motor kami dalam sepinya malam. Jalan licin yang berlumpur dan kubangan air hujan tak menyurutkan hasrat kami untuk menuju ke lokasi.

Dan akhirnya, sekitar jam 10an malam kami tiba di Kampung Cigumentong. Sebuah kampung yang berada di puncak ketinggian Gunung Kareumbi yang menghubungkan 3 Kabupaten yakni Kabupaten Garut, Bandung dan Sumedang. Kampung ini tidak terisolir, kampung ini hanya sebuah kampung kecil dengan 17 Kepala Keluarga, kampung kecil yang dilingkupi gunung-gunung kecil disekitarnya dan masih berada pada Kawasan Wisata Hutan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi. Saat kami tiba, kami disambut Pa Rama dan kawan-kawan juga bapak-bapak penduduk disana. Sambil melepas lelah kami ngobrol kesana kemari tentang segala hal. Canda tawa, berbagi cerita dan pengalaman, mereka semua sangat ramah dan menyenangkan. Pa RT yang menjamu kami dengan kopi dan makan malam, ah sungguh benar baik sekali beliau dan warganya. Malam yang menghangatkan, kami benar-benar merasa bahagia bisa berkumpul dan bercengkerama seperti ini.

Tengah malam menjelang pagi kami pun beristirahat di aula kampung tersebut. Aula dengan alas dipan yang langit-langit dan dindingnya terbuat dari bambu ukiran, membuat kami merasa cukup nyaman untuk rebahan disana. Hujan dan situasi tak memungkinkan bagi kami untuk mendirikan tenda dan bermalam di dalamnya.
Tepat waktu subuh kami terbangun. Dinginnya luar biasa, hingga menyentuh airpun rasanya seperti ditusuk sampai ke hati, hehehe... tetapi udaranya yang segar benar-benar memanjakan indera penciuman kami.



Gerimis dipagi hari, gerimis selalu bikin romantis, kata saya ini mah hihiheho.. Hujan enaknya sih tarik selimut lagi.. apalagi ditempat seperti itu dengan suasana yang begitu, enak makan enak tidur, kalau kata Wa Dimas mah cocok buat pemontokan, hahaha... (nyindir amih itu hihihi piss ah Wa Dimas ). Tetapi kalau tidur lagi, sampai kapan kami disana sedangkan waktu semakin siang. Khususnya buat teman-teman yang dari luar kota perjalanan mereka masih panjang. Sambil menunggu hujan reda kami semua sarapan, sarapan bekal masing-masing plus sarapan liwet buatan ambu dan neng ucu juga roti lamping dan bala-bala produk Bu RT, baru tau saya kalau ada istilah baru lagi buat makanan itu, roti lamping nyaeta sampeu adalah singkong heuheuheu...


Tepat pukul 9 pagi di hari minggu tanggal 17 april, setelah hujan reda dan kami semua selesai sarapan, barulah pemberian santunanpun dilakukan. Dari mulai pemberian buku tulis, buku iqra, pakaian dan penjelasan Pa 001 tentang tatacara penggunaan lampu portable kepada Pa RT dan warganya. Melihat senyum Pa RT dan warganya, senyum anak-anak itu, senyum sumringah mereka yang sungguh luar biasa, luar biasa nikmatnya bagi kami yang merasakannya.. senyum kebahagiaan, selalu menjadi bagian yang paling penting dalam cerita perjalanan ini. Berbagi bersama mereka yang membutuhkan, bukan soal seberapa besar, atau seberapa banyaknya tetapi seberapa manfaat yang bisa diberikan sesuai dengan kemampuan. Makna dari kesemuanya itu yang tak bisa ditukar dengan nilai apapun.. Kebaikan ini adalah cara sederhana untuk berbagi kebahagiaan. Bahagia memang sesederhana itu.


Semoga semua hal yang telah para volunteer kartala, perjalanan cahaya lakukan dan berikan dapat bermanfaat bagi mereka yang menerimanya dan dapat membawa berkah bagi para donatur semuanya.. aamiin. 

Akhirnya setelah acara selesai kamipun bersiap-siap untuk pulang. Cuaca kembali cerah matahari mulai menampakkan sinarnya. Setelah berpamitan dengan Pa RT dan warganya, kami putar balik kanan untuk melakukan perjalanan kembali ke rumah kami masing-masing. Sedikit cerita meromansai kembali perjalanan ini, ketika saya, ambu dan neng ucu harus berjalan kaki lagi karena jalan batu yang licin dan berlumpur membuat kami tidak mungkin berboncengan, tidak seberapa jauh memang dan tidak sedramatis perjalanan Gunung Batu Belang, tetapi itu cukup menguras keringat saya, ambu dan neng ucu. Untuk pertama kalinya saya jalan kaki bersama ambu dan kedua kalinya bersama neng ucu, sambil lari-lari kecil dan penuh semangat ambu bilang tidak apa-apa mih biar langsing. Betul mbu.. ngahajakeun olahraga mah da hoream, hehehe... piss mbu . Rasanya seperti kilas balik perjalanan Batu Belang, ah hmm membuat saya jadi kangen Dewata..



Kami pulang beriringan melewati jalur yang kami lalui kemarin. Jembatan itu bisa kami lintasi tanpa hambatan yang berarti, meskipun jembatan itu dan sepanjang perjalanan pulang kami kondisinya masih sama penuh lumpur dan kubangan air hujan. Tetapi alhamdulillah kami dapat melewatinya dan tiba di tempat awal kami bertemu dalam keadaan selamat dan sehat wal'afiat
Setelah beristirahat dan ngobrol-ngobrol sebentar kamipun harus berpisah untuk kembali ke tempat kami masing-masing. Kebetulan karena saya dan suami adalah orang dekat sini maka untuk perjalanan kali ini saya dan suami yang lebih dulu tiba dirumah, hehehe...

 


Ah.. perjalanan yang sangat menyenangkan. Libur dari pekerjaan untuk melepas rutinitas, meskipun kadang melelahkan tapi bisa membuat segar kembali pikiran. Hal yang paling saya sukai adalah ketika saya bisa berkumpul dengan orang-orang yang membuat saya bahagia, keluarga, teman, sahabat.. berbagi kebaikan, berbagi kebahagiaan. Dengan siapapun dan dimanapun. Perjalanan yang penuh akan pelajaran, saya bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari kegiatan komunitas ini.


Terima kasih untuk semuanya.. Terima kasih para donatur.. Terima kasih Perjalanan Cahaya.. Terima kasih para sahabat Kartala.. Ambu, Neng Ucu, sampai jumpa kembali di ekspedisi berikutnya..hehe mmmuuaacchhh

*Jika ada kesalahan dan atau banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini saya mohon maaf yang sebesar2nya..